Jumat, 24 Februari 2012

Planet Jenis Baru Punya Air Melimpah

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Rabu, 22 Februari 2012 | 18:16 WIB

NASA Planet GJ 1214b yang ternyata merupakan tipe planet baru. Planet ini berjarak 40 tahun cahaya dari Bumi dan mengorbit bintang katai merah. Planet ini mayoritas tersusun atas air.
MASSACHUSETS, KOMPAS.com — Tahun 2009, astronom menemukan planet GJ 1214b. Planet itu berjarak 40 tahun cahaya (1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer) dari Bumi serta memiliki diameter 2,7 kali Bumi dan massa 7 kali Bumi.
Saat penemuan, ilmuwan mencatat bahwa GJ1214b adalah eksoplanet atau planet di luar tata surya kita pertama yang punya atmosfer. Lewat penelitian lanjut pada tahun 2010, astronom akhirnya juga mengetahui bahwa GJ1214b punya air.
Kini, misteri dunia baru ini semakin terkuak. Dengan menggunakan Wide Field Camera 3 Teleskop Antariksa Hubble, astronom menemukan bahwa GJ1214b ialah planet jenis baru.
"GJ1214b tidak seperti planet yang kita tahu. Sejumlah besar fraksi yang menyusunnya terdiri dari air," kata Zachary Berta dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics seperti dikutip situs Discovery, Selasa (21/2/2012).
GJ 1214b memiliki atmosfer yang kaya uap air. Hal ini diketahui berdasarkan analisis data teleskop Hubble, di mana spektrum GJ 1214b tampak dalam spektrum warna yang lebih luas.
Meskipun GJ 1214b kaya akan air, karakter eksoplanet ini berbeda dengan Bumi. Analisis massa jenis membuktikan, GJ 1214b punya air yang lebih banyak dan batuan yang lebih sedikit dari Bumi.
Massa jenis air adalah 1 g/cm3 dan massa jenis Bumi adalah 5,5 g/cm3. Dengan massa jenis 2 g/cm3, maka pasti GJ 1214b mayoritas tersusun oleh air. Diketahui, GJ 1214b mengorbit bintangnya setiap 38 jam pada jarak 2 juta kilometer. Astronom memprediksi, suhu planet ini adalah 239 derajat celsius.
"Temperatur dan tekanan yang tinggi akan membentuk material eksostis seperti 'es panas' atau 'air super cair', substansi yang tak dikenal dalam dunia kita," jelas Berta.

Berta berpendapat bahwa pada awalnya GJ 1214b terbentuk di wilayah jauh dari bintang induknya, di mana air dalam bentuk es begitu melimpah. GJ 1214b kemudian bermigrasi mendekati bintangnya sampai melewati zona layak huni di tata surya tersebut. Sampai saat ini, belum diketahui berapa lama proses tersebut berlangsung.
Diambil dari : Kompas.com

Lapan Akan Luncurkan Satelit Baru Tahun Ini

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Rabu, 22 Februari 2012 | 17:01 WIB

Skyrocket Lapan A2 (ORARI)
BOGOR, KOMPAS.com — Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) kini merencanakan peluncuran satelit baru, Lapan A2 (ORARI), setelah sukses menjalankan misi satelit Lapan-Tubsat selama 5 tahun. Satelit tersebut rencananya akan diluncurkan dari India.
"Kami terus bernegosiasi dengan India untuk bisa meluncurkan satelit pada semester kedua tahun ini, sekitar September sampai Desember," kata Kepala Lapan Bambang S Tejasukmana, Rabu (22/2/2012), dalam seminar "Lima Tahun Satelit Lapan-Tubsat di Orbit dan Pengembangan Satelit Berikutnya" di Bogor.
Ditargetkan, satelit bisa dibawa ke India pada bulan Juni 2012 untuk menjalani tes kelayakan sesuai persyaratan India. Rencananya, satelit juga akan diluncurkan dengan roket India.
Satelit Lapan A2 merupakan satelit yang dirancang Lapan lewat kerja sama dengan Organisasi Radio Amatir Indonesia (Orari). Satelit diharapkan bisa membantu komunikasi dan mitigasi bencana.
"Dengan satelit ini kita bisa melihat tempat bencana secara langsung dan membantu komunikasi saat bencana," ungkap Bambang.
Bambang menguraikan, Lapan A2 memiliki dua kamera dengan jangkauan 12 km atau dua kali lipat dari satelit Lapan-Tubsat. Satelit ini memiliki orbit ekuatorial dan akan melewati Indonesia 14 kali sehari.
Setelah peluncuran Lapan A2, Lapan juga akan meluncurkan Lapan A3 tahun 2013. Satelit dikembangkan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan bertujuan membantu sistem ketahanan pangan nasional.
"Dengan satelit ini, kita akan bangun meteran beras. Meteran yang dipakai saat ini sudah dari tahun 1972, sudah tumpul," kata Mahmud Arifin Raimadoya dari IPB.
Lapan A3 akan membantu memprediksi produksi beras berdasarkan area penanaman. Sistem ini nantinya diharapkan bisa memperbaiki pola subsidi pertanian sehingga lebih menyejahterakan petani.
Bambang menuturkan, Lapan A3 membawa imager yang lebih bagus sehingga mampu menggambarkan area dengan lebih tajam dan akurat. Kemampuan satelit ini sudah memenuhi standar dunia.

Diambil dari : Kompas.com

Satelit Pertama Indonesia Rayakan Ultah Kelima


Yunanto Wiji Utomo | Laksono Hari W | Rabu, 22 Februari 2012 | 16:36 WIB
Lapan Satelit Lapan-Tubsat
BOGOR, KOMPAS.com - Satelit pertama buatan Indonesia, Lapan-Tubsat, merayakan ulang tahun kelima tahun ini. Satelit ini diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Sriharikota, India. Umur 5 tahun merupakan sebuah prestasi sebab banyak satelit sejenis Lapan-Tubsat hanya berumur 2 tahun.
"Pada ulang tahun kelima, kondisi satelit masih sangat sehat. Kita masih bisa mendapatkan datanya walaupun ada penurunan kualitas sebab satelitnya makin turun," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bambang S Tejasukmana, Rabu (22/2/2012).
Selama lima tahun mengorbit, Tubsat telah mendapatkan data hasil penginderaan, seperti pemantauan gunung meletus, kebakaran hutan, serta permukaan Bumi yang telah digunakan oleh instansi kehutanan dan pertanian. Sebagai peringatan ulang tahun, hari ini LAPAN mengadakan seminar "Lima Tahun Satelit Lapan-Tubsat di Orbit dan Pengembangan Satelit Berikutnya". Seminar dihadiri kalangan LAPAN, Institut Pertanian Bogor, Masyarakat Penginderaan Jauh, dan sebagainya.
Dalam seminar ini, dilakukan pula penyerahan data hasil penginderaan jauh Lapan-Tubsat kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Lewat penyerahan arsip itu, masyarakat diharapkan bisa mempelajari permukaan Bumi lewat hasil penginderaan Lapan-Tubsat.
Tejasukmana mengatakan, LAPAN akan terus fokus pada pengembangan satelit. Tahun ini, LAPAN merencanakan peluncuran satelit Lapan A2 dan Lapan A3 yang didesain untuk mendukung program mitigasi bencana dan ketahanan pangan.
Lapan-Tubsat dirancang saat LAPAN dipimpin oleh Mahdi Kartasasmita (2001-2005). Satelit ini mengorbit pada ketinggian 650 km dan berbobot 57 kg. Lapan-Thubsat berorbit polar, mengelilingi Bumi dengan melewati kutub utara dan melewati wilayah Indonesia dua kali sehari.

Diambil dari : Kompas.com

Selasa, 21 Februari 2012

Wajah Matahari Dilihat dari Pluto

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 20 Februari 2012 | 14:52 WIB

ESO Matahari tampak 1000 kali lebih redup jika dilihat dari Pluto.
PARIS, KOMPAS.com - Cryogenic high-resolution Infrared Echelle Spectrograph (CRIRES) dan Very Large Telescope (VLT) European Southern Observatory (ESO) kini bisa menyuguhkan data yang memungkinkan ilmuwan untuk mengetahui wajah Matahari dilihat dari Pluto.

Pluto diketahui merupakan planet kerdil yang jaraknya 40 kali lebih jauh dari jarak Bumi-Matahari. Benda langit ini sempat dikategorikan sebagai planet di Tata Surya. Karena ukuran dan orbitnya, mulai tahun 2006 Pluto lantas dikategorikan sebagai planet kerdil.

Dengan menganalisis data dari CRIRES dan VLT, ilmuwan mengetahui bahwa Matahari lebih redup 1000 kali jika dilihat dari Pluto. Karena panas yang sampai ke Pluto juga jauh lebih sedikit, permukaan Pluto juga lebih dingin, bersuhu sekitar -220 derajat Celsius.

Ilmuwan juga berhasil menguak lingkungan Pluto dengan data yang sama. Atmosfer Pluto terdiri atas gas metana. Sementara itu, permukaan Pluto mungkin terdiri atas metana beku yang bisa berupa petak kecil maupun lapisan tipis.

Wajah Matahari dan ilustrasi kondisi permukaan Pluto tersebut dibuat dalam bentuk video pada tahun 2009. Meski suhu permukaan Pluto mencapai -220 derajat Celsius, diduga atmosfernya 50 derajat Celsius lebih hangat.

"Dengan banyaknya metana di atmosfer, menjadi sangat jelas mengapa atmosfer Pluo begitu hangat," ungkap Emmanuel Lellouch, peneliti yang terlibat riset ini, seperti dikutip Daily Mail, Rabu (15/2/2012).

Sementara itu, Hans-Ulrich Kaufl yang juga terlibat penelitian mengungkapkan, "Sangat mengagumkan CRIRES mampu mengukur dengan tepat gas pada objek yang lima kali lebih kecil dari planet kita dan berlokasi di tepian Tata Surya."

Diambil dari : Kompas.com

Senin, 20 Februari 2012

Aktivitas Tektonik Bulan Masih Berlangsung

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 20 Februari 2012 | 11:50 WIB

NASA Citra Graben yang diambil oleh kamera wahana Lunar Reconaissance Orbiter
WASHINGTON, KOMPAS.com - Tak seperti Bumi yang jelas masih aktif secara tektonik, Bulan diperkirakan telah mendingin sehingga aktivitas tektonik tidak dijumpai. Namun, penelitian terbaru mengubah pandangan itu.

Citra yang diambil oleh wahana Lunar Reconaissance Orbitter menunjukkan bahwa aktivitas tektonik Bulan masih dijumpai dalam 50 juta tahun terakhir.

Bukti aktivitas tektonik itu adalah adanya struktur serupa palung yang disebut "graben" di dataran tinggi Bulan. Graben merupakan lembah dengan dua patahan di kedua sisinya.

Thomas Watters, pakar ilmu keplanetan dari Smithsonian Institute di Washington mengungkapkan bahwa graben terbentuk karena lempengan Bulan meregang.

Graben yang terdeteksi memiliki ukuran panjang 1,8 km dan lebar 500 meter. Graben itu belum memiliki tanda tumbukan meteor atau lainnya, menunjukkan bahwa struktur itu terbentuk akhir-akhir ini.

"Kami berpikir usianya 50 juta tahun, tapi bisa juga 10 juta tahun, 1 juta tahun atau 40 tahun yang lalu. Yang ditunjukkan adalah bahwa masih ada aktivitas geologi yang berlangsung," kata Watters.

Watters, seperti dikutip Space, Minggu (19/2/2012) menambahkan, "Bulan mungkin tidak saja aktif secara tektonik akhir-akhir ini, tapi masih aktif hari ini."

Hasil penelitian ini bisa menjadi petunjuk bagaimana Bulan terbentuk. Teori umum menyebut bahwa setelah objek sebesar Mars menumbuk Bumi hingga debrisnya membentuk Bulan, Bulan seluruhnya berupa lelehan.

"(Penemuan) ini memberi dukungan pada skenario alternatif bahwa Bulan tak seluruhnya meleleh, hanya beberapa bagian saja yang membentuk lautan magma," tutur Whatter.

Analisis citra graben masih bisa dilakukan setelah Lunar Reconaissance Orbitter selesai melakukan pencitraan. Hasil penelitian Whatter dipublikasikan di Nature Geoscience, Minggu kemarin.

Diambil dari : Kompas.com

Tornado Menyapu Permukaan Matahari

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Minggu, 19 Februari 2012 | 20:28 WIB

NASA Tornado menyapu permukaan Matahari
WASHINGTON, KOMPAS.com — Tornado yang sangat hebat menyapu permukaan Matahari dan berhasil ditangkap oleh satelit milik NASA, Solar Dynamics Observatory (SDO).

Video hasil tangkapan SDO menunjukkan bahwa plasma tornado menyapu permukaan Matahari dalam rentang waktu hampir 30 jam, mulai dari 7-8 Februari 2012.

Terry Kucera, pakar fisika Matahari NASA, mengungkapkan bahwa ukuran plasma tornado hampir menyamai Bumi dan berputar dengan kecepatan mencapai 480 km per jam.

"Suhunya sekitar 15.000 derajat fahrenheit (sekitar 8.300 derajat celsius), relatif dingin," kata Kucera. Suhu itu tak seberapa dibanding suhu korona yang bisa mencapai jutaan derajat celsius.

Tornado ini bukan kali pertama terjadi. Wahana antariksa SOHO milik European Space Agency (ESA) setidaknya telah mendeteksi adanya tornado di Matahari sejak tahun 1996.

Tornado di Matahari hampir serupa dengan tornado di Bumi, tetapi tercipta lewat proses berbeda. Jika tornado di Bumi dipengaruhi fluktuasi dan temperatur, tornado di Matahari dipengaruhi magnetisme.

Menurut Kucera, tornado tercipta karena adanya dua gaya magnet yang saling bersaing menarik partikel bermuatan di muka Matahari. Proses ini menciptakan plasma yang berputar di sepanjang medan magnet.

Rentang putaran plasma tornado bisa sangat mencengangkan, mencapai ratusan ribu mil.

"Secara total, panjangnya bisa lusinan Bumi, besar," cetus Kucera seperti dikutip Foxnews, Jumat (17/2/2012).

Video tornado yang menyapu Matahari bisa dilihat di bawah. Video yang sedemikian detail bisa direkam berkat kehebatan SDO yang mampu merekam aktivitas Matahari pada berbagai panjang gelombang. Video ini dirilis pada 11 Februari 2012 untuk memperingati 2 tahun misi SDO.
Video
tornado seson sun


Diambil dari : Kompas.com

Unsur Bumi Terdapat di Tiga Bintang Tua

Yunanto Wiji Utomo | Erlangga Djumena | Minggu, 19 Februari 2012 | 12:53 WIB

Physorg Kristal Tellurium
MASSACHUSETS, KOMPAS.com - Ilmuwan dari Massachusets Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa Tellurium, unsur langka di Bumi, ternyata juga terdapat di tiga bintang tua berusia 12 miliar tahun. Tellurium adalah unsur kimia yang bersimbol Te pada sistem periodik tabel, bersifat racun ringan dan memiliki kenampakan seperti timah.

Tellurium dideteksi dengan data spektograf Teleskop Antariksa Hubble yang memisahkan cahaya bintang berdasarkan panjang gelombangnya. Jika unsur itu terdapat pada bintang, maka sebuah titik akan tampak pada data spektograf, menunjukkan bahwa unsur tersebut menyerap cahaya bintang dengan panjang gelombang tertentu.

Berdasarkan analisis, sebuah titik ternyata dijumpai pada area panjang gelombang sinar ultraviolet. pada panjang gelombang yang cocok dengan wilayah penyerapan Tellurium. Hal ini menunjukkan bahwa Tellurium memang terdapat pada tiga bintang yang usianya hanya sekitar 1 miliar lebih muda dari semesta itu.

Ilmuwan selanjutnya melihat perbandingan kelimpahan unsur Tellurium dengan Barium dan Strontium, unsur berat lainnya. Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa unsur-unsur berat (pada sistem periodik tabel ada di bagian bawah) hanya terbentuk lewat ledakan bintang yang langka serta ekstrim.

Hasil perbandingan menunjukkan bahwa rasio Tellurium, Barium dan Strontium sama. Anna Frebel, asisten profesor astrofisika di MIT yang terlibat penelitian ini mengatakan bahwa hal tersebut mendukung teori yang mengatakan bahwa hanya supernova langka yang bisa menciptakan unsur berat.

"Anda bisa menghasilkan besi dan nikel lewat supernova biasa yang ada di mana pun di semesta. Tapi, unsur-unsur berat seperti ini hanya bisa dihasilkan oleh supernova yang sangat istimewa. Tambahan unsur lain akan membantu kita memahami kondisi astrofisika dan lingkungan dibutuhkan dalam proses ini" ungkap Frebel.

Jennifer Johnson dari Ohio State University yang tidak terlibat penelitian mengatakan bahwa Tellurium adalah unsur yang sulit dideteksi karena menyerap cahaya pada spektrum ultraviolet. Menurutnya, penemuan ini adalah langkah besar untuk memahami unsur yang paling sulit dipahami."

Sementara, tentang tujuan penelitian Tellurium, Frebel seperti dikutip Physorg, Jumat (17/2/2012) mengatakan, "Kami ingin memahami evolusi Tellurium dan unsur lainnya. Di Bumi, semua tersusun atas karbon dan berbagai macam unsur lainnya. kami ingin mengetahui bagaimana Tellurium bisa terdapat di Bumi."

Frebel sendiri akan terus melanjutkan penelitiannya dengan melihat keberadaan unsur lain seperti Selenium, yang juga belum terdeteksi di semesta. Upaya ini adalah bagian dari memahami bagaimana alam semesta terbentuk dan makin kaya akan elemen. Hasil penelitia Frebel tentang Tellurium dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters bulan ini.

Diambil dari : Kompas.com

Dulu, Matahari Berukuran Lebih Besar

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Jumat, 17 Februari 2012 | 12:09 WIB

ESOMM Angin yang besar ditemukan pada bintang bermassa kecil dan besar, tapi hanya sedikit bukti yang menunjukkan adanya angin besar di bintang seperti Matahari.
PENNSYLVANIA, KOMPAS.com - Teori yang dipercaya saat ini menyatakan bahwa semakin tua, bintang akan semakin terang. Sebabnya, inti bintang akan memadat seiring waktu sehingga semakin memanas. Berdasarkan teori ini, Matahari diperkirakan 30 kali lebih redup pada 4,5 miliar tahun yang lalu.

Namun, Steinn Sigurdsson dari Pennsylvania State University, mengatakan, "Matahari yang lebih redup menyuguhkan sebuah paradoks. Temperatur Bumi dan Mars yang diprediksikan akan terlalu dingin untuk bisa memiliki air dalam bentuk cair."

Sigurdsson dan timnya melakukan pemodelan dengan model komputer evolusi bintang MESA. Model ini dikembangkan berdasarkan kode open source yang dibuat oleh Bill Paxton dari Kavli Institute of Physics di Amerika Serikat.

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan, Sigurdsson menjelaskan bahwa pada awalnya Matahari berukuran lebih besar dari sekarang. Ukuran Matahari kemudian mengecil karena massa yang hilang diterbangkan oleh angin Matahari.

Sigurdsson mengatakan, meski lebih besar, selisihnya diperkirakan hanya 2-5 persen. Jika terlalu besar, Matahari akan berevolusi menjadi bintang yang berbeda dari saat ini. Sebaliknya, jika terlalu kecil, Bumi dan Mars takkan punya air dalam bentuk cair.

Peneliti menuturkan, jika kecepatan angin Matahari konstan sepanjang waktu, Matahari akan kehilangan 0,05 persen massanya. Namun demikian, umumnya ilmuwan percaya bahwa angin Matahari di masa lampau jauh lebih kuat dari saat ini.

Seberapa kuat? Masih diperdebatkan. Namun, untuk bisa memanaskan planet-planet seperti saat ini, ilmuwan berpendapat bahwa Matahari harus kehilangan massanya pada ratusan juta tahun pertama hidupnya. Jadi, diperkirakan angin Matahari saat itu 1000 kali lebih kuat.

Hasil pemodelan Sigurdsson masih perlu diuji. Pasalnya, ada teori lain yang memungkinkan Bumi dan Mars bisa memiliki air. Ilmuwan Carl Sagan and George Mullen misalnya, mengatakan bahwa Bumi dan Mars bisa saja lebih hangat karena gas rumah kaca.

Sagan dan Mullen berteori, Bumi pada mulanya kaya ammonia yang lalu dihancurkan oleh ultraviolet. Bumi juga mungkin saja memiliki gas karbon dioksida (CO2). Tapi dukungan untuk hal ini kurang kuat sebab CO2 dalam jumlah besar tak ditemukan pada sampel batuan tertua.

Teori gas rumah kaca sendiri punya kelemahan. Teori ini lemah untuk aplikasinya pada Mars. Mars yang ada pada jarak cukup jauh dari Matahari membutuhkan banyak sekali CO2. Konsentrasi CO2 yang terlalu banyak justru akan memantulkan panas

Berkomentar tentang hasil pemodelan Sigurdsson sendiri, Renu Malhotra dari Lunar Planetary Lab di Arizona State University mengungkapkan, "Sangat menantang untuk menemukan dukungan kuat untuk adanya bintang muda massif dalam observasi astronomi bintang muda seperti Matahari."

Namun, Malhotra mengatakan, jika memang Matahari pernah kehilangan massanya, pasti ada bekasnya. Beberapa meteorit misalnya, menunjukkan kerusakan kristal akibat angin Matahari, meski tak diketahui besarnya.

Maholtra, seperti dikutip Space, Kamis (16/2/2012) mengatakan, penyelidikan bisa dilakukan dengan melihat satelit ireguler seperti satelit Saturnus, Phoeboe. Kalau Matahari kehilangan massa, ada kemungkinan yang lebih besar bagi planet untuk "menangkap" satelit.

Sigurdsson sendiri akan berupaya menyelidiki Matahari sendiri, spesifiknya dengan kajian helioseismologi atau mempelajari getaran yang tercipta akibat aktivitas di dalam Matahari. "Inti Matahari, harapannya, akan memberikan beberapa tanda," tuturnya.

Diambil dari : Kompas.com

Piramida Sadahurip dari Sudut Pandang Astronomi

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Rabu, 15 Februari 2012 | 15:14 WIB

Marufin Sudibyo Penampang lintang sebuah piramida di Mesir.
Foto:
JAKARTA, KOMPAS.com - Klaim bahwa Gunung Sadahurip sejatinya merupakan piramida belakangan menjadi perdebatan hangat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tim Katastrofik Purba, Piramida Sadahurip lebih tua dari Piramida Giza di Mesir. Piramida Sadahurip juga dihubungkan dengan peradaban Atlantis, benua yang hilang yang berdasarkan buku Arysio Santos mencakup wilayah Indonesia.

Beragam pendapat muncul. Kalangan arkeolog dan geolog membantah penemuan tersebut. Kalangan geolog mengatakan bahwa Gunung Sadahurip sejatinya merupakan gunung berapi yang kini sudah mati. Sementara kalangan arkeolog menyatakan bahwa keberadaan piramida tidak mungkin jika tak ditemukan jejak pemukiman di sekitarnya. Di lain pihak, tim penemu tetap yakin bahwa klaimnya adalah benar.

Memberikan analisis dari sudut pandang astronomi, astronom Ma'rufin Sudibyo mengatakan bahwa pembangunan piramida akan selalu menghadap ke titik-titik istimewa di langit. Prinsip ini tidak hanya dianut oleh piramida di Mesir, tetapi juga bangunan mirip piramida yang ada di Indonesia, seperti Candi Borobudur, candi utama di Prambanan hingga candi-candi di Jawa Timur.

"Hal ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut, yang menganggap dewa-dewa mereka senantiasa berada di langit mengawasi setiap saat dalam rupa bintik-bintik cahaya yang gemerlap. Selain itu posisi piramida atau bangunan menyerupai piramida selalu menuju keempat penjuru mata angin dengan presisi demikian tinggi," kata Ma'rufin di catatan akun Facebook miliknya.

Ma'rufin mencontohkan, bangunan Piramida Giza selalu menuju ke arah utara, selatan, timur dan barat dengan presisi tinggi. Presisi itu diupayakan agar sisi utara Giza selalu menghadap ke bintang Thuban atau Alpha Draconis, bintang utara kutub utara langit pada 4500 tahun lalu. Bintang tersebut akan tampak dengan magnitud +3,7, cukup redup sebenarnya.

"Sebagai bintang kutub, posisi bintang Thuban selalu berada di titik yang sama tanpa pernah beringsut sepanjang waktu. Kekhasan posisi bintang Thuban rupanya sejalan dengan konsep keabadian dalam Mesir kuno, sehingga sebuah lorong kecil dibangun dari ruang Firaun (di dalam piramid) menuju sisi utara, yang memungkinkan cahaya bintang Thuban tepat menyinari kepala jasad Firaun," jelas Ma'rufin.

Di dekat bintang Thuban, terdapat bintang Kochab atau beta Ursa Minor. Bintang ini selalu tampak di langit utara seakan-akan berputar mengelilingi Thuban, seolah-olah pasangan setia Thuban. Lorong pun dibangun untuk memungkinkan cahaya bintang Kochab menyinari ruang Permaisuri, yang diletakkan tepat di atas ruang Firaun, khususnya saat bintang berkulminasi atas.

Ma'rufin juga menambahkan bahwa bangsa Mesir Kuno juga sangat terpesona pada rasi Waluku atau Orion yang dianggap sebagai wujud Osiris. Sebuah lorong pun dibangun agar cahaya dari bintang di rasi Waluku bisa menyinari jasa Firaun. Bintang Sirius, salah satu bintang paling terang, juga dianggap sebagai wujud Isis. Lorong juga dibangun agar cahaya bintang ini menyinari jasad permaisuri.

Jika dilihat bangunan mirip piramida di tanah air, seluruhnya pun menghadap ke arah mata angin. "Candi Borobudur misalnya, juga menghadap ke mata angin utama dengan presisi mengagumkan. Pun demikian halnya candi-candi utama dalam kompleks percandian Prambanan," kata Ma'rufin.

Di candi Borobudur, presisi diupayakan sebab selain sebagai bangunan religius, candi juga diupayakan sebagai petunjuk pisisi Matahari dan siklus musim. Hal yang sama juga mungkin berlaku di Prambanan. "Sehingga, dalam perspektif astronomi, piramida ataupun bangunan menyerupai piramida merupakan observatorium kuno tempat kaum cendekia (khususnya pendeta) mengamati langit," tutur Ma'rufin.

Prinsip-prinsip astronomis itulah yang tidak ditemukan di Piramida Sadahurip. Berdasarkan analisis citra Google Earth, Gunung Sadahurip memiliki bentuk dasar segilima tak simetris. Adanya piramida bentuk segilima memang mungkin walaupun belum pernah ditemukan. Meski demikian, segilima yang menjadi dasar bentuk seharusnya juga simetris.

"Akibat ketidaksimetrisan dasarnya, maka arah hadap sisi-sisi gunung Sadahurip pun tidak simetris. Diawali dari utara, masing-masing sisi menghadap ke arah 68, arah 143, arah 220, arah 284 dan arah 344. Tak satupun yang berimpit dengan sumbu mataangin utama (utara-selatan timur-barat) atau sumbu mataangin sekunder. Dengan demikian selisih sudut antar sumbu tiap sisi bervariasi dari yang terkecil 60 derajat hingga yang terbesar 77 derajat," papar Ma'rufin.

Dalam astronomi, arah mata angin dikuantifikasi dalam sudut berjumlah 360 derajat atau lingkaran. Arah utara adalah atau 360 derajat, timur 90 derajat, selatan 180 derajat dan barat 270 derajat. Sadahurip sama sekali tidak menghadap ke sudut itu. Selain itu, akibat tak simetris, selisih antar sudut juga tak sesuai. Jika bentuk dasar segilima, selisih antar sudut seharusnya 72 derajat.

"Sisi yang menghadap ke arah 68 memang hampir sejajar dengan posisi Matahari terbit saat paling utara (summer solstice). Namun terbenamnya Matahari pada titik itu, yakni pada arah 294, ternyata berselisih besar dengan arah hadap 284. Demikian pula terbit dan terbenamnya Matahari pada saat paling selatan (winter solstice), masing-masing di arah 114 dan 245, ternyata tak berhadapan dengan satu sisi gunung Sadahurip sekalipun," papar Ma'rufin.

Ma'rufin menegaskan, jika Piramida Sadahurip benar, maka ada dua kemungkinan. "Pertama, para pembangun piramida Sadahurip tak paham geometri. Sehingga tak bisa merancang dasar piramida yang simetris. Ini bertolak-belakang dengan bangsa Mesir kuno dan Jawa kuno yang telah mengenal dan menerapkan geometri dalam pembangunan piramida dan candinya. Dan yang kedua, para pembangun piramida Sadahurip tak paham astronomi. Sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa langit yang penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno."

Secara tegas, Ma'rufin mengatakan bahwa Gunung Sadahurip bukan piramida atau bangunan mirip piramida.

Diambil dari : Kompas.com

Venus Bergerak Lebih Lambat

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Rabu, 15 Februari 2012 | 09:08 WIB

DLR/ESA Awan tebal Venus yang diambil pada tahun 2007.
BERLIN, KOMPAS.com - Para ilmuwan menemukan bahwa Venus bergerak lebih lambat dari sebelumnya. Pada awal tahun 1990, misi Magellan NASA mengukur bahwa satu rotasi Venus memakan waktu 243,015 hari. Namun, saat ini diketahui bahwa Venus bergerak 6,5 menit lebih lambat.

Kecepatan rotasi Venus sebelumnya diketahui dengan melihat kecepatan sebuah fitur di permukaan Venus melewati wahana antariksa. Cara ini juga bisa dilakukan untuk mengetahui perlambatan atau percepatan.

Baru-baru ini, lewat pemetaan yang dilakukan dengan Venus Express Orbiter milik European Space Agency, ilmuwan menemukan bahwa sebuah fitur di Venus berjarak 20 km dari tempat yang seharusnya.

Nils Muller, ilmuwan DLR German Aerospace Centre, mengatakan, "Ketika dua peta tak sama, saya pertama mengira bahwa ada kesalahan, karena Magellan mengukur dengan sangat akurat."

Namun demikian, ia menambahkan bahwa semua pengecekan telah dilakukan. Sehingga, pada akhirnya disimpulkan bahwa kecepatan Venus memang melambat.

Ada dugaan bahwa perlambatan rotasi Venus disebabkan oleh gesekan atmosfer Venus dan angin yang bergerak cepat. Diketahui, atmosfer Bumi memengaruhi kecepatan rotasi Bumi.

Tapi, Hakam Svedhem dari misi Venus Express, seperti dikutip National Geographic, Selasa (14/2/2012) mengatakan, "Sangat sulit menemukan mekanisme yang mengubah rotasi rata-rata sebesar ini dalam 16 tahun."

Ia menambahkan, "Penyebab utamanya bisa siklus Matahari atau pola musim yang berkepanjangan sehingga memodifikasi dinamika atmosfer. Tapi, teka-teki ini belum terjawab."

Sebuah laporan menyatakan, momentum sudut antara Venus dan Bumi bisa mengubah kecepatan rotasi. Momentum sudut antara Bumi dan Bulan telah terbukti mempengaruhi rotasi Bumi.

Namun, kata Svedhem, dengan jarak Bumi-Venus yang sejauh 38 juta kilometer, diperkirakan tak ada pertukaran momentum sudut antara Bumi dan Venus.

Menanggapi hasil riset, Svedhem mengatakan bahwa penyebab perlambatan rotasi ini harus ditemukan. Penelitian diperlukan untuk bisa memperkirakan pendaratan misi antariksa di lokasi tertentu Venus.

Diambil dari : Kompas.com
 

Senin, 06 Februari 2012

Dua Bulan Baru Jupiter Ditemukan

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 6 Februari 2012 | 08:31 WIB

Scott Sheppard Bulan Baru Jupiter
WASHINGTON, KOMPAS.com - Astronom menemukan dua bulan baru yang mengorbit planet Jupiter. Dengan penemuan ini, jumlah bulan planet terbesar di tata Surya itu bertambah menjadi 66 buah.

Dua bulan baru Jupiter itu disebut S/2011 J1 dan S/2011 J2. Keduanya berhasil diidentifikasi menggunakan Magellan Baade Telescope di Las Campanas Observatory, Chile, pada 27 September 2011.

Dua bulan yang ditemukan merupakan anggota dari objek terkecil di Tata Surya. Diameter kedua bulan baru Jupiter itu hanya sekitar 1 km.

Dengan demikian, tak seperti empat bulan besar Jupiter lain yang mudah dilihat dengan teleskop sederhana, kedua bulan ini tampak amat redup sehingga sulit diamati. Jarak kedua bulan dengan Jupiter amat jauh sehingga butuh waktu 580 hari dan 726 hari bagi kedua bulan untuk mengelilingi Jupiter.

"Bulan-bulan ini adalah bagian dari kawanan objek retrograde terluar di sekeliling Jupiter," kata Scott Sheppard, ilmuwan dari Department of Terrestrial Magnetism di Carnegie Institute for Science, Washington.

Retrograde adalab bulan atau satelit yang mengorbit berlawanan dengan arah rotasi planet. S/2011 J1 dan S/2011 J2 adalah dua dari 52 bulan Jupiter yang termasuk retrograde.

Sheppard mengatakan bahwa Jupiter kemungkinan memiliki lebih banyak satelit lagi. Dan, diantara banyak satelit, banyak yang merupakan bulan-bulan mini layaknya S/2011 J1 dan S/2011 J2.

Ilmuwan mengungkapkan, S/2011 J1 dan S/2011 J2 termasuk dalam jenis bulan ireguler, mengorbit planet pada jarak jauh serta memiliki orbit eksentrik dan cenderung miring.

Karena karakteristik orbit itu, kedua bulan itu diperkirakan adalah sebuah komet atau asteroid yang di masa lalu "tertangkap" oleh gaya gravitasi Jupiter, kemudian berubaha status menjadi bulan.

"Karena bulan-bulan ireguler ini tertangkap pada masa-masa awal Tata Surya, mereka bisa memberi petunjuk bagaimana planet terbentuk dan proses evolusinya," ungkap Sheppard seperti dikutip National Geographic, Kamis (2/2/2012).

Jupiter memiliki 4 satelit besar dan terkenal, yakni Io, Ganymede, Europa dan Callisto. Biasanya, bulan Jupiter diberi nama berdasarkan nama dewa Romawi dan Yunani.

Publik mungkin mendambakan nama yang lebih familiar pada dua bulan baru yang baru saja ditemukan. Tapi, nama itu baru akan diberikan setelah observasi terhadap bulan baru dilakukan setidaknya selama satu tahun.

Penemuan dua bulan baru Jupiter ini diumumkan di Central Bureau for Astronomical Telegrams, International Astronomical Union, minggu lalu.

Diambil dari : Kompas.comKompas.com

Minggu, 05 Februari 2012

Untung Zaman Udah Maju !

Lagi dapat tugas Bahasa Indonesia, "menyimak acara dialog yang ditayangkan di televisi". Waduh, awal-awalnya oke karena tugasnya diberi waktu 2 minggu. Pertemuan kemarin guruku udah nagih, tapi belum ada yang ngerjain. Trus pertemuan besok (Senin, 6 Februari 2012) udah disuruh ngumpulin. Waduh...mana banyak pr, tv rusak. Wah gimana ini? Tapi media elektronik kan nggak terbatas di tv aja. Nah aku nyari-nyari video dialog tv yang ada udah lama semua. Liat live streaming kalo liat di sekolah sih enak, internet lancar. Sedangkan kalo pakek modem di rumah lama banget, nggak bisa ngikutin live streaming. Mana acara dialog nggak pas sama waktu di sekolah. Nyari-nyari akhirnya nemu juga, yah meskipun terhitung lama nggak papa deh asalkan bulan Februari 2012 aja. Videonya aku dapat dari VIVAnews.com Yang judulnya "Wawancara Eksklusif dengan Nunun Nurbaeti" Rabu, 1 Februari 2012. Meskipun durasinya dikit ngga papa deh. Daripada nggak ngerjain tugas. Nih Videonya :

Padahal aku nggak ngerti tentang masalah-masalah begini. Banyak tugas sih. Matpel inilah itulah, dipikirin jadi pusing.

Jumat, 03 Februari 2012

OSN Astronomi 2011

Berikut ini semua materi yang telah saya himpun semoga berguna buat yang mau belajar astronomi.

OSN Astronimi 2005

OAKK 2006

OAKK 2005

SOLAR SYSTEM

STAR AND CLUSTER

OBSERVATORIUM

ASTRO PARTY 2006

APLIKASI KOORDINAT BENDA LANGIT

KLASIFIKASI OBJEK LANGIT

LATIHAN OAP 2007

LATIHAN 11

LATIHAN SINGKAT 1

LATIHAN SOAL 2009

SOAL LATIHAN ISIAN

LATIHAN ESSAY

LATIHAN URAIAN 09

LATIHAN URAIANN O5

LATIHAN 07

LATIHAN 06

LATIHAN ESSAY 03

SOAL SELEKSI STUDI CLUB ASTRONOMI SMAN 8

ASTEROID KOMET METEOR

GALAKSI BIMA SAKTI

BULAN SATELIT BUMI

JAGAD RAYA

SOAL BABAK FINALLOMBA CEPAT TEPAT PAJ

PERTANYAAN 1

PERTANYAAN 3

PERTAYAAN 2

KOSMOLOGI HAAJ 2007

CATALOGUE MESSIER

SOAL PENYISIHAN BABAK SATU PAJ 2007

PENYISIHAN BABAK KEDUA PAJ 2007

MENJELAJAHI JAGAD RAYA SMAN 8 2006

SOAL OAP 2007

ARIES

JAWABAN PERTANYAAN 2

WORKSHOP PAI

DATA NAMA RASI BINTANG

KONTEPLAIS DAN KOSMOLOGI HAAJ 2008

LATIHAN FIS-MAT-ASTRO

SOAL OA KUNJAYA 2005

ASTEROID ASTRO PARTY

1000 HOUR OF ASTRONOMI 2009


Diambil dari : Wangsajaya

Materi dan Soal Astronomi untuk Persiapan OSN 2012

Materi dan Soal Astronomi untuk persiapan Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012 dapat di download pada link berikut :

  1. Pengenalan Benda Langit + Video
  2. Matematika Astronomi
  3. Efek Rotasi dan Revolusi Bumi
  4. Hukum Gravitasi Newton
  5. Penentuan Jarak Bintang (New)
semoga bermanfaat untuk persiapan menuju OSN 2012

Diambil dari : Pelatihan Olimpiade Sains

Lagi, Ditemukan Planet yang Diduga Bisa Dihuni

M.Latief | Latief | Jumat, 3 Februari 2012 | 03:49 WIB

Google/msn.com Bintang utama planet yang dijuluki GJ 667C.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Kelompok ilmuwan internasional menyatakan telah menemukan planet bumi super yang diduga bisa dihuni. Seperti disebutkan dalam Astrophysical Journal Letters, Kamis (2/2/2012), waktu orbit planet tersebut sekitar 28 hari dan massa paling kecilnya ialah 4,5 kali dari bumi.

Tim tersebut terdiri dari ilmuwan asal Universitas California, ahli perbintangan Santa Cruz (UCSC) bernama Steven Vogt dan Eugenio Rivera serta dipimpin oleh Guillem Anglada-Escud, serta Paul Butler dari Institusi Ilmu Pengetahuan Alam Carnegie. Hasil temuan mereka, jalur planet tersebut berada di lingkup kawasan bintang-bintang yang dapat dihuni, yang bersuhu tidak terlalu panas atau pun terlalu dingin bagi cairan di permukaan planet tersebut.

Para peneliti itu menemukan sejumlah bukti mengenai setidaknya satu atau mungkin dua bahkan tiga planet tambahan yang mengelilingi bintang dengan jarak sekitar 22 tahun cahaya dari bumi.

Bintang besar dari planet tersebut merupakan anggota sistem tri-bintang dan memiliki materi yang berbeda dari matahari dengan mengandung lebih sedikit jumlah unsur yang lebih berat daripada helium seperti besi, karbon dan silikon. Penemuan ini menandakan, bahwa kemungkinan adanya planet yang dapat dihuni bisa terjadi di tingkat lingkungan lebih luas ketimbang yang dipercaya sebelumnya.

Bintang utama planet yang dijuluki GJ 667C tersebut merupakan bintang kecil tingkat M. Dua bintang lainnya di sistem tri-bintang (GJ 667 AB) merupakan sepasang bintang kerdil berwarna jingga tingkat K dengan inti zat seberat hanya sebesar 25 persen dari matahari kita. Unsur tersebut merupakan tumpuan pembentukan sejumlah planet di jagat raya sehingga dianggap tidak mungkin bagi sistem bintang yang mengandung sedikit logam memiliki planet bermassa rendah.

"Hal itu sepertinya diharapkan menjadi bintang yang tidak biasa yang memiliki planet. Namun mereka ada di sana, di dekat lingkup sekitarnya dan menjadi contoh bintang yang kebanyakan mengandung sedikit unsur logam di galaksi kita," kata Vogt, Profesor Astronomi dan Astrofisika di UCSC.

Vogt mengatakan, penemuan planet tersebut dengan jarak yang dekat dan waktu yang cepat menjelaskan, bahwa galaksi Bima Sakti pasti dipenuhi dengan miliaran planet berbatu yang kemungkinan dapat dihuni.


Diambil dari : Kompas.com

Pahatan Wajah Manusia di Angkasa

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Kamis, 2 Februari 2012 | 11:35 WIB

ESO Citra nebula NGC 3324. Lihat bagian kanan, tampak awan gas dan debu membentuk pahatan wajah manusia jika dilihat dari samping kanan.

CILE, KOMPAS.com — Teleskop yang ada di Cile berhasil menangkap citra sebuah nebula atau kabut kosmis. Uniknya, nebula yang menjadi tempat kelahiran bintang tersebut tampak seperti pahatan wajah manusia di angkasa.

Situs Space.com, Rabu (1/2/2012), menyatakan bahwa nebula yang dimaksud ialah NGC 3324. Nebula tersebut penuh dengan bintang muda yang radiasi ultravioletnya menyebar ke segala arah.

Dalam gambar di bagian kanan, ada awan dan debu angkasa yang jika dicermati mirip dengan wajah manusia dilihat dari sisi samping kanan.

Citra ini ditangkap oleh Wild Field Imager di teleskop MPG/ESO 2,2 meter. NGC 3324 sering juga disebut Nebula Gabriela Mistar, sesuai nama seorang penerima nobel asal Cile.

Citra NGC 3324 tampak warna-warni, menunjukkan radiasi yang dikeluarkan oleh bintang-bintang di nebula itu. Tiap warna merepresentasikan hal yang berbeda.

Warna merah jambu memperlihatkan proses pengubahan susunan elektron dalam atom hidrogen. Sementara warna kuning kehijauan menunjukkan proses ionisasi oksigen.

NGC 3324 terletak pada jarak 7.500 tahun cahaya dari Bumi. Jutaan tahun lalu, nebula ini sangat aktif dan "melahirkan" bayi-bayi bintang dalam jumlah banyak.


Diambil dari : Kompas.com

Rahasia Lingkungan Luar Tata Surya Terkuak

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Rabu, 1 Februari 2012 | 11:55 WIB

NASA Planet pengembara dalam ilustrasi rekaan NASA

TEXAS, KOMPAS.com — Rahasia lingkungan di luar Tata Surya sedikit terungkap setelah beberapa ilmuwan menemukan bahwa lingkungan di luar pengaruh Matahari berbeda, serta jauh lebih aneh dari yang dibayangkan.

Perbedaannya adalah pada jumlah oksigen. Ada lebih banyak oksigen yang terdapat di Tata Surya daripada di interstellar atau wilayah antarbintang.

Ilmuwan belum mengetahui sebabnya. Namun, ada kemungkinan materi yang mendukung kehidupan tersembunyi di debu atau es angkasa.

"Kami menguak teka-teki besar bahwa material di luar Tata Surya berbeda dengan yang ada di dalam," kata David McComas dari Southwest Research Institute, Texas, seperti dikutip AP, Selasa (31/1/2012).

Terkuaknya teka-teki ini tak lepas dari jasa wahana antariksa Interstellar Boundary Explorer (Ibex), yang diluncurkan tahun 2008. Wahana antariksa itu diutus untuk mempelajari lingkungan batas Tata Surya di mana aliran partikel dari Matahari bertumbukan dengan gas dingin di area antarbintang.

Mengelilingi dari jarak 320.000 km di atas Bumi, Ibex mendeteksi partikel yang mengalir ke Tata Surya. Gelembung pelindung yang mengelilingi Matahari dan planet mencegah radiasi kosmik masuk, tetapi partikel netral bisa lewat dengan mudah sehingga Ibex bisa mengetahui distribusinya.

Meski lingkungan luar Tata Surya memiliki oksigen lebih sedikit, hal ini tak selayaknya menjadi alasan dihentikannya pencarian planet mirip Bumi.

Geoff Marcy dari Universitas California Berkeley mengatakan, ada banyak oksigen di bintang lain dalam wilayah Bimasakti dan di luar wilayah tempat biasa terbentuk bintang dan planet.

Ilmuwan juga masih bisa berharap pada hasil penelitian wahana antariksa Voyager yang diluncurkan tahun 1977 dan mengeksplorasi perbatasan Tata Surya sejak 2004. Dalam beberapa bulan lagi, Voyager akan memasuki wilayah antarbintang dan siap menguak rahasia lain.


Diambil dari : Kompas.com

Asteroid 433 Eros Menuju Titik Terdekat Bumi

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 30 Januari 2012 | 14:33 WIB

NASA Asterois 433 Eros

JAKARTA, KOMPAS.com - Selasa (31/1/2012) besok, Asteroid 433 Eros akan menuju titik terdekatnya dengan Bumi dalam kurun waktu 37 tahun terakhir. Asteroid selebar 34 km ini akan berada pada jarak hanya 26,7 juta kilometer.

Bagi astronom amatir, kedekatan asteroid memberi kesempatan untuk melakukan pengamatan. Kesempatan pengamatan ini tergolong langka. Jika melewatkan kesempatan ini, maka warga Bumi harus menunggu hingga tahun 2056.

Situs Universe Today, Senin (30/1/2012), melaporkan bahwa asteroid ini nantinya akan tampak pada magnitud 8 atau 7. Cukup redup memang. Jadi, perlu teleskop mumpuni untuk mengamati asteroid ini.

Mutoha Arkanuddin dari Jogja Astro Club, Senin (30/1/2012), mengatakan, "Eros akan tampak di rasi Sextans. Rasi ini terbit sekitar pukul 20.00 WIB di sebelah timur dan semakin malam akan semakin bergerak ke barat."

Pengamat bisa mulai mengamati kira-kira setelah waktu Isya. Pengamatan bisa dilakukan hingga tengah malam. Jika mengamati tengah malam, Sextans akan berada di sebelah barat Mars yang tampak kemerahan. 433 Eros sendiri akan tampak sebagai titik cahaya.

Asteroid 433 Eros adalah asterorid tipe S, terdiri dari besi dan magnesium silikat. Asteroid ini ditemukan oleh Carl Gustav Witt di Berlin dan Auguste Charlois di Nice pada tanggal 13 Agustus 1898.

Orbit asteroid 433 Eros oval memanjang serta memasuki orbit Mars. Hal ini memungkinkan para astronom mengamati asteroid ini sekaligus meneliti kembali jarak Bumi dengan Matahari lewat uji parallax.

Mutoha mengatakan, uji parallax biasa digunakan dalam pengukuran jarak antar planet. Uji dilakukan dengan melihat sudut antara dua benda untuk menentukan jaraknya. Uji parallax untuk meneliti kembali jarak Bumi-Matahari menjadi proyek besar yang melibatkan astronom profesional dan amatir di dunia.

Meski 433 Eros akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi, namun secara absolut sebenarnya jaraknya masih jauh, mencapai jutaan kilometer. Karenanya, tak perlu khawatir. Asteroid ini tak menimbulkan bahaya apa pun bagi warga Bumi.


Diambil dari : Kompas.com

11 Tata Surya Baru Ditemukan

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Minggu, 29 Januari 2012 | 16:21 WIB

NASA Ilustrasi tata surya dan planet hasil temuan terbaru Kepler.

CALIFORNIA, KOMPAS.com — Sejumlah 11 tata surya baru yang memiliki jumlah total 26 planet ditemukan. Penemuan dideskripsikan di empat karya tulis berbeda di Astrophysical Journal dan Monthly Notice of the Royal Astronomical Society bulan ini.

Penemuan bisa dilakukan berkat jasa wahana antariksa Kepler. Dengan penemuan ini, Kepler telah mengonfirmasi 61 planet dan menemukan 2.300 kandidat planet. Penemuan sekaligus menegaskan bahwa Bimasakti dipadati tata surya dan planet.

Tata surya yang berhasil ditemukan disebut Kepler 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, dan 33. Tiap-tiap tata surya punya dua sampai lima planet. Jarak planet dengan bintang di tiap tata surya relatif dekat dengan waktu orbit berkisar dari 6-143 hari.

Lima tata surya (Kepler 25, 27, 30, 31, dan 33) punya dua planet. Satu kali revolusi planet terluar sama dengan dua kali revolusi planet terdalam. Empat tata surya lain (Kepler 23, 24, 28, 32) punya dua planet. Planet terluar mengorbit bintang dengan waktu tiga kali lebih lama dari planet terdalam.

Tata surya yang memiliki planet terbanyak adalah Kepler 33. Bintang pada tata surya ini lebih tua dan masif dibandingkan Matahari serta memiliki planet yang jarak orbitnya relatif dekat.

Ukuran planet yang terdapat di 11 tata surya tersebut bervariasi, antara seukuran Bumi hingga lebih besar dari Jupiter. Namun, masih harus diteliti lagi apakah planet tersebut merupakan planet batuan seperti Bumi dan memiliki atmosfer.

Tata surya dan planet ditemukan dengan metode planet transit, yakni melihat kedipan cahaya bintang akibat adanya planet yang lewat di mukanya. Verifikasi planet dilakukan dengan teknik variasi waktu transit.

Sejumlah peneliti yang terlibat penemuan ini adalah Eric Ford dari Universitas Florida, Dan Fabrycky dari Universitas California, Jason Steffen dari Fermilab Center for Particle Astrophysics, dan Jack Lissauer dari NASA.


Diambil dari : Kompas.com