Sabtu, 28 Januari 2012

Titan Kaya Ragam Bukit Pasir

Yunanto Wiji Utomo | Laksono Hari W | Kamis, 26 Januari 2012 | 22:57 WIB

NASA Ilustrasi bukit pasir di Titan, bulan milik Saturnus.

CALIFORNIA, KOMPAS.com - Wahana antariksa Cassini yang "mengintip" Titan menemukan bahwa lingkungan bulan terbesar di planet Saturnus tersebut kaya akan ragam bukit pasir. Bukit-bukit pasir di Titan sekilas juga tampak bagai bukit pasir yang ada di Bumi.

Ada 4 juta mil wilayah bukit pasir di Titan. Lebar rata-rata bukit pasir adalah 960-1.920 meter, panjang 1.600 meter, dan tinggi sekitar 100 meter. Jarak antara satu bukit pasir dengan bukit pasir lain bervariasi.

Berdasarkan analisis data yang ditangkap Cassini, Alice Le Gall, mantan postdoctoral fellow di Jet Propulsion Laboratory NASA di California, mengungkapkan bahwa variasi ukuran bukit pasir Titan ditentukan oleh letak lintang dan ketinggian. Le Gall menemukan bahwa bukit-bukit pasir yang tinggi lebih ramping dan berjarak lebih lebar satu sama lain. Gap antarbukit pasir terlihat tampak sebagai lapisan pasir tipis. Pasir yang menjadi materi pembentuk bukit pasir banyak terdapat di dataran rendah.

Ditinjau dari letak lintangnya, bukit pasir di Titan lebih banyak tersebar di wilayah ekuatorial, antara 30 derajat lintang utara hingga 30 derajat lintang selatan. Di tiap letak lintang, ciri bukit pasir berbeda. Bukit pasir yang ditemukan di lintang utara memiliki volume yang lebih sedikit. Le Gall dan rekannya, seperti diberitakan Daily Mail, Kamis (26/1/2012), mengungkapkan bahwa hal itu mungkin terkait dengan orbit eliptikal Saturnus.

Setiap musim di Titan berganti setiap 7 tahun waktu Bumi. Akibat orbit eliptikal Saturnus, belahan bumi selatan Titan mengalami musim panas yang lebih singkat dan lebih ekstrem, demikian pula sebaliknya di belahan utara. Konsekuensinya, belahan selatan Titan lebih kering dan angin dengan mudahnya mendistribusikan pasir. Sebaliknya, belahan utara Titan lebih basah atau lembab sehingga bukit pasir sulit terbentuk.

Jangan sangka bukit pasir di Titan benar-benar mirip di Bumi. Bukit pasir di Titan diduga tersusun atas pasir berbahan hidrokarbon yang membeku dan memadat. Ini berbeda dari pasir Bumi yang tersusun atas silikat.

Nicholas Altobelli, ilmuwan proyek Cassini Huygens ESA, mengungkapkan, "Memahami bagaimana bukit pasir terbentuk serta menjelaskan bentuk, ukuran, dan distribusinya di Titan, sangat penting untuk memahami iklim dan geologi Titan."


Diambil dari : Kompas.com

Kamis, 26 Januari 2012

Hujan Radiasi Badai Matahari Tak Seburuk Bayangan

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Kamis, 26 Januari 2012 | 11:57 WIB

NASA Badai Matahari

CALIFORNIA, KOMPAS.com - Ledakan Matahari terbesar dalam 7 tahun terakhir yang terjadi Senin (23/1/2012) pukul 10.59 WIB menyebabkan lontaran massa korona yang akhirnya sampai ke Bumi pada Selasa (24/1/2012) pukul 21.31 WIB.

Sejumlah peringatan berlebihan dikirim lewat Blackberry Messenger dan SMS. Dikatakan bahwa radiasi yang mencapai Bumi tergolong kuat dan masyarakat yang keluar rumah wajib melindungi kulit. Benarkah demikian?

Bahwa ledakan Matahari dan badai Matahari membawa konsekuensi pada radiasi, itu benar. Saat ledakan Matahari terjadi, radiasi dipancarkan ke seluruh angkasa di Tata Surya. Bumi pun dihujani radiasi. Tapi, dampaknya tak seburuk yang dibayangkan.

Todd Hoeksema, astronom Stanford University menuturkan, "Radiasi ultra violet dari Matahari memang meningkat ribuan kali saat ledakan Matahari. Namun, itu di luar atmosfer Bumi. Jumlah sinar ultraviolet yang sampai permukaan sama saja seperti biasa."

"Sinar UV sangat energetic jadi berinteraksi dengan atmosfer, memecah molekul dan mengionisasi atom. Ketika sinar UV bergerak di udara, semakin banyak yang diserap. Kebanyakan diserap pada ketinggian 80-100 mil di atas permukaan," sambung Hoeksema.

Dengan proses tersebut, kata Hoeksema seperti dikutip Life Little Mysteries Rabu (25/1/2012), peningkatan jumlah sinar ultraviolet yang mencapai Bumi sebenarnya sangat minimal alias tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Perlindungan kulit seperti yang dimaksud dalam pesan BBM dan SMS terlalu berlebihan. Manusia di Bumi tak perlu panik. Antisipasi dampak badai Matahari langsung terhadap tubuh hanya perlu diwaspadai oleh para astronot di luar angkasa.

Jika pun perlindungan kulit harus dilakukan, langkah itu tak perlu dikaitkan dengan puncak aktivitas Matahari dan badai Matahari.

"Yang menjadi masalah adalah dosis kumulatif dari radiasi UV, bukan peningkatan kecil di sini sana," ungkap Hoeksema. Sinar UV diketahui bisa memicu mutasi genetik dan menyebabkan kanker kulit.

"Karena efeknya kumulatif, saya pikir orang harus memakai tabir surya setiap saat," pungkas Hoeksema.

Diambil dari : Kompas.com

Aktivitas Matahari Bersihkan Sampah Antariksa

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Kamis, 26 Januari 2012 | 11:46 WIB

Wired Badai Matahari

WASHINGTON, KOMPAS.com - Puncak aktivitas Matahari yang akan terjadi 2013 mendatang memang mengancam Bumi dengan badai Matahari yang ditimbulkan. Tapi, ternyata peningkatan aktivitas Matahari tersebut juga membawa dampak positif.

Laporan New Scientist, Rabu (25/1/2012) menyatakan bahwa aktivitas Matahari membantu membersihkan sampah antariksa yang menumpuk di orbit rendah Bumi. Ini menjadikan antariksa lebih aman bagi para astronot.

Ketika aktivitas Matahari memuncak, radiasi yang juga meningkat menghangatkan lapisan luar atmosfer Bumi, thermosfer. Suhu yang meningkat menyebabkan lapisan tersebut sedikit mengembang ke angkasa.

Apa konsekuensinya? Sampah antariksa yang terdapat di orbit rendah Bumi akan masuk dalam lapisan thermosfer. Akibatnya, sampah dipaksa masuk kembali ke orbit Bumi lebih cepat dan langsung terbakar. Jumlah sampah pun berkurang.

Orbital Debris Quaterly News NASA melaporkan bahwa pengembangan atmosfer ini telah memacu pembakaran sampah Fengyun-1C, satelit milik Cina, serta sampah wahana milik Rusia Kosmos 2251 dan US Iridium 33 milik Amerika Serikat.

Nicholas Johnson dari NASA mengatakan bahwa aktivitas Matahari ini menguntungkan. Dalam kondisi dimana sampah antariksa makin bertambah, ternyata ada cara alami untuk menghancurkan kembali sampah itu.

Berita buruk datang akibat perubahan iklim. Hugh Lewis dari Universitas Southamton, Inggris, mengungkapkan bahwa perubahan iklim akan membuat Bumi lapisan thermosfer menyusut. Sebagai konsekuensi, sampah antariksa bertahan lebih lama.

Diambil dari : Kompas.com

Badai Matahari Akan Maksimum pada 2013

Tri Wahono | Kamis, 26 Januari 2012 | 10:36 WIB

NASA Ledakan Matahari yang terjadi pada Senin (23/1/2012) pukul 10.59 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badai Matahari yang terpantau Senin (23/1/2012) pukul 10.50 WIB berhasil diantisipasi sehingga tidak menimbulkan dampak negatif. Bagi Indonesia, fenomena alam ini tidak memberi pengaruh berarti. Badai Matahari ini diperkirakan akan mencapai ekstrem pada tahun 2013.

Hal ini dikemukakan Deputi Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, Rabu (25/1/2012), di Jakarta.

Badai Matahari yang ditandai munculnya flare ini masuk skala menengah tinggi (M8-9), dengan indikator pancaran sinar-X yang mencapai 10 - 5 hingga 10 – 4 watt per meter persegi. Badai Matahari disebut mencapai skala sangat kuat (ekstrem) bila berskala 10 – 4 hingga 10 – 3 watt per m2.

Serbuan partikel proton ke Bumi diantisipasi dengan mengalihkan jalur penerbangan jarak jauh dari Amerika Serikat ke Asia dan sebaliknya yang melintasi kutub Utara.

Paparan partikel proton ini tidak berdampak bagi Bumi karena ada lapisan magnetosfer yang menahan partikel tersebut. Radiasi dari badai Matahari juga akan diserap lapisan ozon.

Badai Matahari antara lain pernah menimbulkan dampak pada tahun 1989 dan tahun 2000 bagi sistem kelistrikan di negara- negara di lintang tinggi dan dekat kutub, antara lain Kanada.

Pantauan di Indonesia

Partikel energetik proton mencapai Bumi Selasa (24/1) malam waktu Indonesia. Menurut Clara Yono Yatini, Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan, badai Matahari telah memengaruhi komunikasi radio antarstasiun milik Lapan hingga terjadi blackout.

Kondisi geomagnet di Indonesia terpantau di tujuh stasiun Lapan, yaitu di Kototabang, Sumatera Barat; Tanjungsari, Jawa Barat; Pontianak, Kalimantan Barat; Biak, Papua; Manado, Sulawesi Utara; Parepare, Sulawesi Selatan; dan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Hasil pantauan tidak menunjukkan gangguan berarti, kata Clara.

Thomas menjelaskan, flare ini merupakan yang pertama kali terpantau sejak Mei 2005. Kelas M yang mendekati kelas X, dampaknya akan kuat bila mengarah ke bumi.

Flare dari teropong di Bumi tampak berupa bintik hitam di permukaan Matahari dan akan meningkat menjadi letupan terang. Sinar-X yang terpancar dari letupan itu terekam pada satelit Geostationary Operational Environmental Satellite.

Flare diikuti lontaran massa dari korona Matahari. Yang menonjol adalah proton yang melesat dengan kecepatan 1.400 kilometer per detik.

Korona terdeteksi oleh wahana pemantau Matahari SOHO pada posisi antara Bumi dan Matahari berjarak 1.500.000 km dari Bumi (4 kali jarak Bumi-Bulan). "Partikel bermuatan dari Matahari itu tampak seperti hujan salju, berarti mengarah ke arah bumi," kata Thomas.

Anomali cuaca Matahari ini akan memengaruhi ionosfer. Lapisan ini digunakan untuk memantulkan gelombang pendek pada komunikasi radio. Komunikasi radio frekuensi HF akan terganggu, termasuk siaran radio luar negeri, seperti BBC, VOA, dan ABC. Navigasi berbasis satelit, seperti GPS, juga dapat terganggu akurasinya.

Badai Matahari berskala menengah tinggi ini berpotensi mengganggu operasional satelit, seperti satelit komunikasi. Bila gangguan tidak dapat diatasi oleh operator satelit, ada kemungkinan akan mengganggu telekomunikasi penggunaan telepon seluler, siaran TV, dan komunikasi data perbankan.

Namun, tidak benar radiasi dari Matahari itu akan berefek langsung bagi tubuh manusia. Juga tidak ada efek radiasi ketika berkomunikasi menggunakan telepon seluler. "Kalau ada berita itu hanya hoax," kata Thomas. Efek paparan proton hanya terjadi di wilayah kutub. (YUN)


Diambil dari : Kompas.com

Berhasil Dibuat, Prediksi Badai Matahari Paling Akurat

Yunanto Wiji Utomo | Glori K. Wadrianto | Kamis, 26 Januari 2012 | 09:51 WIB

NASA Ledakan Matahari yang terjadi pada Senin (23/1/2012) pukul 10.59 WIB.

CALIFORNIA, KOMPAS.com — Ilmuwan di Goddard Space Flight Center NASA berhasil mengembangkan prediksi badai Matahari paling akurat. Penyimpangan (error) dalam prediksi tersebut hanya 13 menit. Prediksi itu berhasil dibuat untuk meramalkan waktu lontaran massa korona (CME) dari ledakan Matahari pada Senin (23/1/2012) pukul 10.59 WIB mencapai Bumi.

"Kami memprediksi CME sampai pukul 09.18 dan kenyataannya CME sampai pukul 09.31, jadi prediksi kami cuma error 13 menit," kata Yihua Zheng, peneliti di Goddard Space Flight Center NASA.

Berdasarkan Waktu Indonesia Barat, badai Matahari diperkirakan sampai ke Bumi pada Selasa (24/1/2012) pukul 21.18 WIB, dan nyatanya sampai pada pukul 21.31 WIB. Zheng, seperti dikutip Space, Rabu (25/1/2012), menambahkan, "Biasanya model peramalan ini memiliki error sekitar 7 jam. Jadi ini adalah yang terbaik."

Perkiraan badai Matahari berhasil dibuat dengan mengandalkan data dari wahana Solar Dynamics Observatory, Solar Heliosphere Observatory (SOHO), dan STEREO. "Dengan menggabungkan informasi dari beragam sudut pandang, kita bisa menentukan karakteristik CME dengan baik, seperti kecepatan dan arah. Kita masukkan dalam model dan kita dapat prediksinya," urai Zheng.

Prediksi yang akurat amat penting. Dengan demikian, bisa dibuat peringatan dini akan dampak badai Matahari, seperti informasi meteorologi tentang hujan, badai, dan sebagainya. Saat ini, dan di masa depan, di mana penerbangan antariksa direncanakan, prediksi ini juga diperlukan untuk mengetahui wahana atau pesawat mana yang terancam.

Di luar angkasa, dampak badai Matahari bisa lebih besar. Contoh, radiasi sinar UV selama badai Matahari bisa meningkat ribuan kali dari biasanya.

Tak ketinggalan dengan luar negeri, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pun turut serta mengamati aktivitas Matahari dan memperkirakan badai Matahari dan dampaknya. Ledakan Matahari pada Senin lalu menjadi catatan tersendiri karena masuk dalam kelas M-9 dan merupakan terbesar dalam 7 tahun terakhir, atau sejak tahun 2005.

Hingga 2013 mendatang, frekuensi terjadinya badai Matahari akan meningkat akibat aktivitas Matahari setiap 11 tahun sekali yang memuncak pada tahun tersebut. Prediksi badai Matahari bisa memberi peringatan dini bagi warga Bumi. Warga Bumi harus waspada terhadap beragam konsekuensi, seperti terganggunya komunikasi dan navigasi.


Diambil dari : Kompas.com

Badai Matahari Ciptakan Cahaya Aurora yang Cantik

Tri Wahono | Rabu, 25 Januari 2012 | 22:33 WIB

AFP PHOTO / Scanpix / Rune Stoltz Bertinussen Aurora borealis di atas langit Tromsoe, Norwegia, Selasa (24/1/2012) malam.

STOCKHOLM, KOMPAS.com — Lontaran partikel berenergi tinggi dari ledakan Matahari yang sampai ke Bumi, Selasa (24/1/2012) malam, telah menciptakan pemandangan yang mengagumkan di langit belahan Bumi bagian utara. Gelombang elektromagnetik yang menembus atmosfer menciptakan cahaya warna-warni yang disebut sebagai aurora borealis.

Para astronom dan pelancong pun tak menyia-nyiakan kesempatan melihat pemandangan yang langka tersebut. Bahkan, ada yang sampai menyewa kapal untuk melihat lebih jelas aurora tersebut dari fjord atau danau di bagian utara Skandinavia.

"Ini sungguh mengagumkan. Saya melihat aurora pertama kali 40 tahun lalu dan ini adalah yang paling bagus," kata John Mason, astronom dari Inggris, di dek Kapal MS Midnatsol, di sebuah fjord di utara Norwegia.

Pemandu wisata di Jukkasjarvi, Swedia, Andreas Hermansson, mengatakan, aurora kali ini merupakan yang terbesar dalam enam tahun terakhir. Ia dan rombongan turis menggunakan sebuah bus sukses menikmati cahaya aurora dengan dominasi hijau yang menari-nari di langit pada Selasa petang selama sekitar satu jam.

Bahkan, aurora dilaporkan terlihat dari daerah yang lebih jauh ke selatan, seperti di Irlandia dan Inggris, sebelum partikel-partikel badai Matahari sampai ke atmosfer. Namun, menurut fisikawan Doug Biesecker dari Pusat Meteorologi AS, cahaya tersebut mungkin akibat angin Matahari yang membawa gelombang bermuatan listrik dan bukan partikel-partikel badai Matahari.

Aurora borealis kali ini disebabkan ledakan Matahari pada bintik Matahari 1402, Senin (23/1/2012) pukul 10.59 WIB. Ledakan ini merupakan yang terkuat sejak tahun 2005, masuk dalam kelas M-9 alias sudah mendekati kelas tertinggi (X-Extreme). Akibat ledakan itu, terlepas partikel berenergi tinggi dan lontaran massa korona (CME) yang bergerak dengan kecepatan hingga 2.200 km per detik. Badai Matahari selalu diwaspadai karena bisa menyebabkan kerusakan pada perangkat satelit dan alat komunikasi.


Diambil dari : Kompas.com

Score Report

Sabtu, 21 Januari 2012

Monyet Punah Ditemukan Lagi di Indonesia

Yunanto Wiji Utomo | Pepih Nugraha | Jumat, 20 Januari 2012 | 15:42 WIB

ERIC FELL Lagur abu-abu (Presbytis hosei canicrus).

JAKARTA, KOMPAS.com — Ilmuwan yang meneliti hutan hujan tropis di Indonesia menemukan kembali spesies monyet besar dan berwarna abu-abu yang diduga telah punah. Mereka menemukan kembali langur abu-abu (Presbytis hosei canicrus) yang memiliki wajah hitam dengan bulu-bulu halus di bagian leher yang berwarna abu-abu.

Penemuan itu tak disengaja. Tim sebenarnya sedang memasang kamera jebakan untuk menangkap gambar orangutan, leopard, dan lainnya di hutan Wehea, bagian timur Kalimantan, Juni 2011. Tak disangka, grup monyet yang tak pernah dijumpai sebelumnya muncul.

Penemuan itu menantang tim ilmuwan yang dikepalai oleh Brent Loken dari Simon Fraser University di Kanada. Mereka tak punya foto langur abu-abu. Satu-satunya yang dimiliki adalah sketsa dari museum. "Kami gembira luar biasa mengetahui fakta bahwa ternyata monyet jenis ini masih ada, juga bahwa ini didapati di Wehea," kata Loken seperti dikutip AP, Jumat (20/1/2012).

Langur yang memiliki ciri mata agak tertutup dan hidung serta bibir yang berwarna sedikit pink ini dipercaya tersebar di Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan Thailand. Namun, sebelumnya dinyatakan bahwa jenis ini sudah punah.

Aktivitas pembakaran hutan, konversi lahan, dan pertambangan diduga menjadi sebab jenis ini makin sulit ditemukan. "Bagi saya, penemuan monyet ini adalah representasi betapa banyaknya spesies yang ada di Indonesia," ucap Loken.

"Ada banyak satwa yang ciri khas dan sebarannya sangat sedikit kita ketahui menghilang begitu cepat. Rasanya, banyak jenis satwa ini akan punah dengan cepat," tambah Loken.

Sebagai langkah lanjut dari penemuan ini, ilmuwan akan meneliti lebih jauh jumlah langur abu-abu yang ada di wilayah seluas 38.000 hektar. Sejumlah ilmuwan internasional dan dari Indonesia akan terlibat. "Kita akan coba sebisa mungkin. Namun, ini seperti berpacu melawan waktu," kata Loken.

Pakar primata yang tak tergabung dalam studi ini, Erick Meijaard, menyatakan dukungan terhadap upaya para ilmuwan. "Ini adalah spesies yang penuh teka-teki," katanya.

Meijaard mengungkapkan, langur abu-abu dipercaya merupakan subspesies dari monyet daun Indonesia (Presbytis hosei) yang juga terdapat di wilayah Malaysia di Borneo. Namun, ada dugaan bahwa langur abu-abu adalah spesies yang berbeda.

"Kami berpikir bahwa mungkin ini spesies yang berbeda. Ini menjadikan penemuan di Kalimantan ini jauh lebih penting," kata Meijaard.


Diambil dari : Kompas.com

Bocah SD Beri Nama untuk Wahana Antariksa NASA

Yunanto Wiji Utomo | Glori K. Wadrianto | Rabu, 18 Januari 2012 | 14:59 WIB

nasa.gov Konsepsi artis tentang satelit GRAIL yang mengorbit bulan.

WASHINGTON, KOMPAS.com — Dua wahana antariksa milik NASA yang bertugas mengobservasi Bulan, Gravity Recovery Interior Laboratory (Grail) A dan B kini memiliki nama baru, yakni Ebb dan Flow. Penamaan ulang dua wahana ini dilakukan oleh dua pelajar sekolah dasar yang masing-masing bernama Kennedy Stock (9) dan Chandler Foust (10).

Kedua pelajar tersebut berasal dari Emily Dickinson School di Bozeman, Montana. Mereka adalah pelajar yang memenangi kontes penamaan ulang setelah mengalahkan lebih dari 11.000 pelajar.

Maria Zuber dari Massachusets Institute of Technology yang juga pimpinan investigasi misi Ebb dan Flow mengatakan, "Kami terlalu sibuk merancang dan memastikan wahana ini diluncurkan tepat waktu. Jadi, ketika memberi nama, kami langsung menyebut A dan B, dan itu tak terlalu kreatif. Jadi, kami mengajak kaum muda di Amerika untuk menjadi asisten kami."

"Dua pelajar menemukan fakta bahwa Grail akan mempelajari gravitasi Bulan dan bahwa efek dari gravitasi tersebut bisa dilihat setiap hari dalam bentuk gelombang pasang. Jadi, mereka memilih Ebb dan Flow karena itu adalah contoh sehari-hari bagaimana gravitasi Bulan berdampak pada Bumi," papar Zuber seperti dikutip AFP, Rabu (18/1/2012).

Grail bukanlah wahana antariksa pertama yang penamaannya melibatkan pelajar. Sebelumnya, wahana antariksa yang bertugas ke Mars, Curiosity, dinamakan oleh pelajar bernama Clara Ma pada 2009. Grail adalah misi ke Bulan berbiaya 500 juta dollar AS yang diluncurkan pada September dan sampai ke orbit Bulan pada awal Januari kemarin. Wahana ini mula memetakan Bulan pada Maret nanti.


Diambil dari : Kompas.com

Ada Air di Wilayah Gelap Bulan

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Jumat, 20 Januari 2012 | 19:06 WIB

NASA Citra kutub selatan Bulan yang memiliki wilayah gelap permanen.

TEXAS, KOMPAS.com - Astronom akhirnya mengetahui bahwa daerah Bulan yang gelap total punya tekstur lebih halus, berpori, dan memiliki material seperti tepung yang mengandung air. Fakta tersebut terungkap lewat Lyman Alpha Mapping Project di Lunar Reconaissance Orbiter, wahana antariksa milik NASA yang mengelilingi Bulan.

Wilayah Bulan yang gelap total selama ini masih sulit dicitrakan. Untuk mampu menguak rahasianya, astronom memakai emisi lyman alfa. Emisi lyman alfa bekerja dengan memantulkan atom hidrogen yang tersebar di Tata Surya, termasuk di kutub Bulan di mana terdapat wilayah gelap total. Data yang didapatkan lalu dikalibrasi. Berdasarkan hasil analisis data, astronom mengungkap bahwa wilayah daerah Bulan yang gelap total lebih gelap dari daerah lainnya.

"Penjelasan terbaik kami, perbedaan reflektansi ini karena permukaannya lebih berpori dan halus," kata Kurt Rutherford dari Southwest Research Institute di Texas. "Ini tersusun atas material yang serupa bubuk atau tepung," tambah Rutherford seperti dikutip situs Space.com, Kamis (19/1/2012).

Menurut Rutherford, wilayah Bulan yang gelap total lebih berpori dan halus karena adanya air. Ada partikel air yang bergerak memunculkan pori-pori.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa lintang rendah Bulan punya 0,5 persen air dalam bentuk es. Studi terbaru menunjukkan bahwa bayang-bayang Bulan punya 2 persen air. Hasil penelitian ini menambah keyakinan bahwa Bulan yang awalnya diduga kering kerontang ternyata punya air. Adanya air ini sangat bermanfaat bagi astronom yang nanti mungkin akan mendarat di Bulan.


Diambil dari ; Kompas.com

Ini Dia Planet Paling Aneh

Yunanto Wiji Utomo | Glori K. Wadrianto | Rabu, 18 Januari 2012 | 16:42 WIB

NASA Ilustrasi ukuran 55 Cancri e dibandingkan dengan Bumi.

MASSACHUSETS, KOMPAS.com — Banyak planet ekstrasurya ditemukan dan memiliki karakter yang beragam. Beberapa di antaranya punya keanehan, misalnya mengorbit dua matahari. Astronom berhasil meneliti planet 55 Cancri e. Planet itu mengorbit bintang yang jaraknya 40 tahun cahaya dari Bumi, dan ditemukan pada tahun 2004. Ini adalah planet paling aneh.

Penelitian selama beberapa tahun mengungkap bahwa 55 Cancri e masuk kategori super-earth, bermassa 99 kali Bumi. Observasi planet ini dilakukan ketika planet singgah di muka bintang. Diketahui, 55 Cancri e singgah di muka bintangnya tiap 18 jam. Selama ini, astronom menduga bahwa kondisi 55 Cancri e sangat panas dan kejam. Ini karena jarak planet tersebut dan bintangnya sangat dekat, 26 kali lebih dekat jarak Matahari-Merkurius.

Namun, penelitian terbaru menguak bahwa 55 Cancri e tak seperti dugaan. Meski jarak planet dan bintangnya dekat, planet ini memiliki cairan, termasuk air. Cairan di planet ini pun tak seperti yang dibayangkan, bukan berupa samudra seperti di Bumi. Cairan terdapat di dalam, dan merembes keluar lewat batuan.

Adanya cairan ini aneh sebab temperatur permukaan planet ini mencapai 1.000 derajat Celsius. Menurut astronom, kondisi tersebut dimungkinkan karena setiap cairan ada pada kondisi super-kritis, temperaturnya lebih dari titik didihnya (100 derajat untuk air), tetapi tetap berada pada wujud cair. Sebagai hasil dari rembesan air ke permukaan planet, atmosfer planet ini menjadi sangat panas dan beruap. Dan, ini bisa dideteksi dari jarak 40 tahun cahaya.

Penelitian ini dilakukan oleh Brice-Olivier Demory dari Massachusets Institute of Technology dan dipublikasikan di Astronomy and Astrophysics.


Diambil dari ; Kompas.com

Batuan Mars Jatuh ke Bumi

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Rabu, 18 Januari 2012 | 13:34 WIB

Darryl Pitt Sampel batuan dari Mars yang ditemukan di Maroko.

WASHINGTON, KOMPAS.com — Batuan Mars ternyata pernah jatuh ke Bumi. Dan, bukan cuma satu, tapi cukup banyak. Ilmuwan pada Selasa (17/1/2012) mengonfirmasi bahwa batuan dengan berat total kurang lebih 7 kg yang ditemukan di Maroko merupakan batuan yang berasal dari planet merah. Batuan itu jatuh saat hujan meteor pada Juli 2011 lalu. Batuan terbesar yang jatuh berukuran sekitar 1 kg.

Temuan ini merupakan kali kelima, di mana ilmuwan mengonfirmasi kebenaran adanya batuan Mars berdasarkan kesaksian warga. Juli lalu, sejumlah orang menyaksikan bola api di langit yang diduga merupakan batuan yang jatuh. Namun, batuan itu baru berhasil ditemukan bulan Desember 2011 kemarin.

Dalam astronomi dan astrobiologi, penemuan ini penting sebab memberi kesempatan bagi ilmuwan untuk mempelajari kemungkinan adanya kehidupan di Mars. Sejauh ini, wahana antariksa milik Amerika Serikat dan Rusia baru mengungkap sedikit fakta tentang planet yang dikatakan paling mirip Bumi itu.

Sebagai ekspresi kegembiraan dari penemuan ini, mantan ilmuwan NASA dan Direktur Florida Space Institute di University Central Florida, Alan Stern, mengatakan, "Ini Natal di bulan Januari. Sangat menyenangkan Mars mengirimkan sampel, khususnya karena kantong kita terlalu kosong untuk mendapatkannya dengan usaha sendiri."

Komite yang bertugas meneliti batuan tersebut menyatakan bahwa kepastian batuan Mars diperoleh setelah melihat susunan kimia dan umur. Kimia batuan ini dinilai pas atau sesuai dengan kondisi atmosfer Mars. Sementara dari segi umur, batuan Mars lebih muda dari asteroid dan Bulan karena secara geologi, Mars aktif.

Astronom saat ini berpendapat bahwa jutaan tahun lalu, benda besar menghantam Planet Mars dan mengirimkan batuan ke seluruh penjuru Tata Surya. Setelah perjalanan lama di angkasa, batuan itu masuk ke atmosfer Bumi dan hancur berkeping-keping.

Sejauh ini telah banyak batuan atau meteorit Mars yang masuk ke Bumi. Namun, banyak dari mereka yang sudah berada di Bumi selama puluhan tahun sebelum ditemukan. Akibatnya, batuan itu terkontaminasi oleh material Bumi.

Lain halnya dengan batuan yang ditemukan di Maroko ini.

"Ini benar-benar fresh. Ini bernilai tinggi karena alasan tersebut," cetus Carl Agee, Direktur Institut Meteorit dan kurator di University of New Mexico.

Seorang dealer meteorit bernama Darryl Pitt mengatakan bahwa ia memberi harga batuan ini mulai 11.000 - 22.500 dollar AS. Dengan harga tersebut, batuan ini 10 kali lebih berharga dari emas.

International Society for Meteoritics and Planetary Science yang beranggotakan 950 ilmuwan memberi nama Tissint pada batuan Mars yang jatuh.

Jatuhnya batuan Mars termasuk peristiwa langka, sekitar satu kali setiap 50 tahun. Sebelumnya, batuan Mars jatuh di Perancis pada tahun 1815, India pada tahun 1865, Mesir pada 1911, dan terakhir di Nigeria pada 1962. Jadi, jatuhnya batuan Mars ini bisa dikatakan satu kali seumur hidup manusia.

Jeff Grossman, ilmuwan NASA, menuturkan, banyak hal menarik yang bisa diungkap dari batuan Mars yang ditemukan walaupun waktu 6 bulan di Bumi juga sudah cukup lama untuk mendukung kontaminasi.

Chris Herd, pakar meteorit dari University of Alberta mengungkapkan, hal pertama yang harus dilakukan pada batuan ini adalah membersihkannya dari kontaminasi material Bumi dengan pelarut tertentu, kemudian melihat material karbon yang tersisa.

Mungkinkah batuan ini menguak misteri kehidupan di Mars?

Steve Squyres, astronom dari Cornell University dan pimpinan investigasi Mars Exploration Rover Program NASA menjelaskan bahwa sayangnya, batuan yang jatuh bukan yang paling diharapkan.

Menurut dia, batuan Mars yang memiliki air dan bisa mendukung kehidupan lebih lunak dari yang ditemukan. Namun, biasanya batuan tersebut akan hancur lebur tanpa jejak saat masuk ke atmosfer Bumi.

Tapi tetap, masih banyak hal yang bisa dikerjakan dengan sampel ini.


Diambil dari ; Kompas.com

Titan Benar-benar Mirip Bumi

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Selasa, 17 Januari 2012 | 15:39 WIB

NASA Titan

PARIS, KOMPAS.com — Titan benar-benar mirip Bumi. Lewat pemodelan komputer, ilmuwan menemukan bahwa bulan Planet Saturnus tersebut memiliki kesamaan dengan Bumi jauh dari yang diduga.

Satu lagi kemiripan Titan dengan Bumi ialah lapisan atmosfernya. Titan memiliki lapisan atmosfer batas yang terbagi atas dua sublapisan. Lapisan batas bawah atmosfer Titan memiliki ketebalan 800 meter dan berubah dalam periode hari, sementara lapisan atasnya punya ketebalan 2 kilometer dan berubah musiman.

"Implikasi paling penting dari penemuan ini adalah Titan tampak lebih mirip Bumi dari yang diduga sebelumnya," ujar Benjamin Charnay, ilmuwan dari National Center of Scientific Research, Perancis, seperti dikutip Space, Senin (16/1/2012).

Hasil penelitian ini membantu menjelaskan angin di Titan yang pernah dideteksi wahana Huygens, fenomena bukit pasir di Titan, serta awan metana.

Selain itu, hasil ini juga bisa jadi rekonsiliasi dari dua hasil penelitian terdahulu. Sebelumnya, ada dua penelitian yang masing-masing menyatakan bahwa ketebalan atmosfer Titan adalah 3,5 km dan 300 meter.

"Jadi, sekarang tidak ada hasil yang bertentangan," kata Chamay. Ia bersama rekannya, Sebastien Lebonnois, memublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Nature Geoscience minggu ini. Ke depan, Chamay berniat meneliti bagaimana siklus metana di Titan dan kemiripannya dengan siklus air di Bumi.


Diambil dari : Kompas.com

"Tiga Dara" Tampil di Langit Malam Ini

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 16 Januari 2012 | 12:08 WIB

Stellarium Bulan, Spica dan planet Saturnus tampak dalam format segitiga Selasa (17/1/2012) dini hari.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ada pemandangan menakjubkan yang bisa dinanti untuk meramaikan malam ini. "Tiga dara", Bulan, Saturnus dan bintang Spica akan tampil dalam format segitiga. Sementara itu, Mars yang kemerahan mengintip di atasnya.

Pemandangan ini bisa disaksikan dengan mengarahkan pandangan ke arah timur dan sedikit ke selatan. Trio Bulan, Saturnus, dan Spica akan tampil di panggung langit mulai sekitar pukul 01.00 WIB.

Bulan akan tampak terang dalam bentuk hampir setengah lingkaran. Sementara itu, Saturnus akan tampil di sebelah kiri Bulan dengan magnitud 0,95, jadi cukup cemerlang untuk disaksikan.

Spica akan tampak di atas Bulan dan Saturnus dengan magnitud 1,24. Spica adalah bintang paling terang pada rasi Virgo dan merupakan bintang paling terang ke-15 yang tampak pada malam hari. Jarak Spica dengan Bumi adalah sekitar 260 tahun cahaya.

Pengamatan bisa dilakukan dengan mata telanjang. Namun, ada baiknya menggunakan teleskop agar bisa lebih jelas. Pilihlah tempat yang cukup gelap dan lapang sehingga mempermudah pengamatan.

Saat diamati, Bulan tentu saja akan berwarna putih seperti biasanya. Saturnus akan tampak sebagai titik cahaya di sebelah Bulan. Sementara itu, Spica yang sering disebut juga Raksasa Biru akan tampak kebiruan.

Kehadiran Mars yang jauh lebih di atas juga akan meramaikan pertunjukan di langit malam ini. Mars akan tampak kemerahan dengan magnitud - 0,16.

Saturnus saat ini sedang berada pada jarak 1,45 miliar kilometer dari Bumi, sedangkan Bulan pada jarak 367.000 km.

Dalam pertunjukan malam ini, semakin lama, Bulan akan makin menjauh dari Spica dari sudut pandang manusia di Bumi. Segitiga yang terbentuk akibat kedekatan tiga benda langit itu pun akan semakin lebar.

Bulan, Saturnus, Spica, dan Mars yang tampil malam ini bisa disaksikan hingga menjelang fajar. Jadi, bagi yang tak bisa terjaga hingga tengah malam, tak perlu khawatir karena melewatkannya.


Diambil dari : Kompas.com

Ilmuwan Ciptakan "Bintang" di Bumi

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 16 Januari 2012 | 11:44 WIB

Daily Mail Mesin Z
TEXAS, KOMPAS.com - Ilmuwan asal Universitas Texas, Austin, berhasil membuat simulasi kondisi permukaan bintang katai putih, bintang kecil yang sudah tak bersinar lagi serta terdiri atas material yang mengalami degenerasi.

Don Winget, sang ilmuwan, membuat simulasi kondisi bintang katai putih dengan "Mesin Z", fasilitas yang ada di Sandia National Laboratories di Albuquerque.

Mesin Z sejatinya dimanfaatkan untuk membuat simulasi ledakan nuklir, tapi sekarang juga dimanfaatkan untuk proyek Winget. Mesin ini bisa menghasilkan energi tinggi, cukup untuk melelehkan berlian.

Dalam eksperimen sebelumnya, Mesin Z berhasil menciptakan suhu 3,7 miliar Kelvin, suhu tertinggi yang bisa diciptakan. Mesin juga bisa menghasilkan listrik setara dengan 80 kali output listrik Bumi.

Dalam pembuatan simulasi katai putih, ilmuwan menggunakan hidrogen yang ditempatkan di sel gas, 36 kabel yang super besar dan diinsulasi oleh air serta sumber arus.

Sebanyak 26 juta Ampere listrik dialirkan lewat kabel tungsten sehingga menghasilkan sinar X. Ketika sinar X menumbuk sel gas hidrogen, ia terionisasi dan menghasilkan temperatur sekitar 10.000 derajat Celsius. Terciptalah kondisi bintang katai putih.

Apa istimewanya menciptakan simulasi bintang katai putih. Winget, berkomentar, "Sebagai astronom, saya bisa mengobservasi bintang dari jarak tahunan cahaya. Jadi sangat luar biasa saat ketika kita bisa mengukur dari jarak hanya 5 cm."

Pakar fisika Allan Wootton yang juga dari universitas Texas di Austin, seperti dikutip Inside Science, Kamis (12/1/2012) mengatakan, "Ini adalah riset terobosan. Ini pengalaman tak biasa bagi para astronom, tapi telah membuka peluang untuk mengeksplorasi kondisi di dalam bintang dan lingkungan ekstrim lainnya."


Diambil dari : Kompas.com

Phobos-Grunt Jatuh di Pasifik

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 16 Januari 2012 | 09:17 WIB

NASA Phobos-Grunt

JAKARTA, KOMPAS.com - Akhirnya, wahana antariksa Rusia yang gagal melaksanakan misi ke Phobos, Phobos-Grunt, dinyatakan telah jatuh.

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Senin (16/1/2012) mengatakan, "Laporan terakhir dari USSTRATCOM (Komando Strategis AS), menyatakan data radar terakhir tercatat pukul 23.36 WIB dan berdasarkan data terakhir itu Phobos-Grunt jatuh antara pukul 23.59 - 01.47 WIB malam Senin dini hari 16 Januari 2012.

Sementara itu, astronom Ma'rufin Sudibyo, mengutip pernyataan Roscosmos mengatakan bahwa Phobos-Grunt jatuh pada pukul 00.45 WIB. Waktu persis jatuhnya Phobos-Grunt memang belum bisa dipastikan.

Sebelum jatuh, Phobos-Grunt sempat melewati wilayah Asia Tengah, Pasifik Barat dan Pasifik Selatan. Wahana antariksa ini semalam juga sempat melewati Indonesia, yakni wilayah Halmahera, Irian, sisi barat Kalimantan dan Nusa Tenggara.

Karena waktu belum pasti, maka lokasinya pun demikian. Meski begitu, diyakini bahwa Phobos-Grunt jatuh di wilayah Pasifik Selatan. Laporan terbaru The Guardian dan RIA Novosti menyatakan bahwa Phobos-Grunt jatuh di 1250 km sebelah barat Wellington, lepas pantai Chile, atau di sebelah timur perairan Australia dan Selandia Baru.

Thomas mengatakan, "Untuk memastikan dimana satelit ini jatuh memang sulit sebab sudah lepas dari pengamatan radar. Kita harus mengandalkan laporan saksi di wilayah tertentu yang melihat jatuhnya Phobos-Grunt."

Sementara Ma'rufin mengatakan bahwa Indonesia patut bersyukur karena sudah aman dari ancaman kejatuhan satelit. "Jika saja Phobos-Grunt masih berada di atas sana dan lewat dua jam kemudian, Indonesia dilintasi wahana antariksa gagal ini," katanya.

Phobos-Grunt diluncurkan pada 9 November 2011 lalu namun kemudian macet di orbit karena masalah navigasi dan kehabisan energi. Misi ini seharusnya sampai di Phobos untuk mengambil tanah dan batuan di bulan Mars itu, namun gagal. Diperkirakan, ada 200 kg komponen Phobos-Grunt yang jatuh ke Bumi, terpecah antara 20-30 keping.

Menurut Thomas, Phobos-Grunt bukan wahana antariksa Rusia pertama yang jatuh. Lapan menyimpan 2 tabung motor roket Rusia yang jatuh tahun 1981 dan di Lampung. Sementara itu, stasiun ruang angkasa Mir juga jatuh ke Bumi di Pasifik. Bedanya, Mir jatuh dengan kendali.


Diambil dari ; Kompas.com

Senja Berwarna Biru di Planet "Alien"

Yunanto Wiji Utomo | Latief | Minggu, 15 Januari 2012 | 13:49 WIB

Discovery Ilustrasi senja biru di planet HD 209458 b.

EXETER, KOMPAS.com — Semua orang sudah mengetahui warna senja di Bumi yang merah jingga. Namun, bagaimana dengan senja di sebuah planet alien?

Frederic Pont, ilmuwan dari Universitas Exeter di Inggris, berhasil merekonstruksi warna senja di HD 209458 b, sebuah planet yang mengorbit bintang HD 209458. Rekonstruksi itu dilakukan berdasarkan data dari teleskop antariksa Hubble.

Menurut Pont, Hubble memiliki data karakteristik kimia suatu planet dalam gelombang cahaya yang dapat digunakan secara langsung untuk merekonstruksi warna senja di planet alien.

Berdasarkan hasil rekonstruksi, Pont mengatakan, senja di HD 209458 b atau sering disebut Osiris itu akan berwarna biru. Seperti diuraikan Discovery, Senin (9/1/2012), warna cenderung kebiruan karena atmosfer Osiris kaya akan sodium yang menyerap warna merah dan jingga.

Seiring bintang HD 209458 makin tenggelam, molekul di atmosfer Osiris akan menghamburkan cahaya biru. Penghamburan dikenal dengan penghamburan Rayleigh, jenis penghamburan yang sama sebagai penyebab langit Bumi berwarna biru. Akibat penghamburan, langit senja pun akan "menyala" kebiruan.

Membayangkan melihat senja berwarna biru memang indah. Namun, mungkinkah manusia pergi ke Osiris untuk menyaksikannya?

Sepertinya sulit. Osiris berjarak 150 tahun cahaya dari Bumi. Butuh waktu sangat lama untuk bisa menjangkaunya. Di samping itu, Osiris adalah planet gas raksasa, bagaimana mungkin manusia menginjakkan kaki di sana?

Kesulitan lain, Osiris mengorbit sangat dekat dengan bintangnya. Temperatur planet itu mencapai 1.000 derajat celsius. Suhu ini membuat manusia akan berubah menjadi abu dalam segera.

Belum diketahui kondisi yang memungkinkan bagi senja di Bumi untuk berwarna biru. Namun yang jelas, warna benda langit memang bisa berubah. Contohnya, setelah letusan Krakatau tahun 1883, warna Matahari berubah menjadi lavender dan Bulan menjadi kebiruan. Saat gerhana bulan total pada 10 Desember 2011 kemarin, Bulan juga berwarna kebiruan. (Baca: Gerhana Bulan di Gombong Berwarna Kebiruan serta Bulan Biru dan Matahari Lavender).


Diambil dari ; Kompas.com

Bimasakti Ternyata Berwarna Putih Salju

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Jumat, 13 Januari 2012 | 17:58 WIB

Posisi Matahari di galaksi Bimasakti

TEXAS, KOMPAS.com - Astronom sejak lama bertanya-tanya bagaimana warna Bimasakti jika dilihat dari luar. Pertanyaan itu akhirnya terjawab dari hasil penelitian Jeffrey Newman, ilmuwan Universitas Pittsburg yang diumumkan di pertemuan American Astronomical Society ke 219 di Texas, Kamis (12/1/2012).

"Deskripsi terbaik yang bisa saya berikan adalah jika Anda melihat salju di awal musim semi, yang memiliki butiran salju halus, sekitar satu jam setelah fajar atau satu jam sebelum Matahari terbenam," papar Newman seperti dikutip BBC, Kamis kemarin.

Dengan kata lain, Bimasakti sebenarnya memiliki warna putih. Selain bagai salju, Bimasakti juga bisa diibaratkan berwarna antara lampu pijar kuno dengan cahaya Matahari pada tengah hari. Keduanya berwarna putih, namun sedikit berbeda satu sama lainnya.

Informasi tentang warna galaksi ini bisa menjadi penting bagi astronom. "Warna galaksi itu mengatakan pada kita seberapa tua bintang yang ada di galaksi itu, kapan galaksi itu membentuk bintang. Apakah bintang-bintang yang ada terbentuk saat ini atau miliaran tahun yang lalu," papar Newman.

Berdasarkan warna yang didapatkan, Newman mengungkapkan bahwa Bimasakti saat ini tengah ada pada tahap evolusi yang menarik. Tingkat pembentukan bintang berkurang seiring waktu. Apa yang terjadi kemudian masih teka-teki dan selalu menarik untuk dipelajari.


Diambil dari : Kompas.com

Jumat, 20 Januari 2012

"Saturnus" Pertama di Luar Tata Surya

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Jumat, 13 Januari 2012 | 17:10 WIB
Dibaca: 4668
|
Share:
University of Rochester Ilustrasi struktur cincin yang ditemukan di sekeliling sebuah objek yang berjarak 420 juta tahun cahaya dari Bumi.

TEXAS, KOMPAS.com - Benda angkasa menakjubkan ditemukan lima tahun lalu. Benda itu memiliki cincin sehingga menyerupai planet Saturnus. Ini adalah benda serupa Saturnus pertama di luar Tata Surya.

Penemuan dipresentasikan di ajang American Astronomical Society ke 219 yang berlangsung Rabu (11/1/2012). Ilmuwan menemukannya lewat pengamatan kedipan cahaya bintang yang diakibatkan oleh adanya benda di sekitarnya.

Pengamatan dilakukan dalam proyek SuperWASP (Wide Angle Search for Planets) and All Sky Automated Survey (ASAS). Peneliti mengamati bintang-bintang serupa Matahari di wilayah antara rasi Scorpius-Centaurus.

Penemuan bermula ketika astronom mengetahui adanya bintang bernama 1SWASP J140747.93-394542.6. Bintang itu berusia 1/300 usia Matahari dan berada di jarak 420 tahun cahaya dari Bumi.

Bintang itu terlihat aneh. Ilmuwan menemukan bahwa pada awal tahun 2007, bintang itu mengalami gerhana selama periode 54 hari. Menurut para astronom, ini menunjukkan adanya benda yang mengelilingi bintang itu.

Biasanya, jika ada sebuah objek bulat sederhana seperti planet tanpa cincin, cahaya bintang akan meredup dan terang lagi dalam satu periode singkat. Tapi, ilmuwan menemukan bahwa cahaya bintang meredup dan terang lagi beberapa kali.

Berdasarkan hasil penemuan itu, ilmuwan mengungkapkan bahwa objek yang mengelilingi 1SWASP J140747.93-394542.6 adalah objek yang memiliki struktur cincin.

Eric Mamajek, astronom yang terlibat penelitian, mengatakan bahwa sampai saat ini ada satu struktur cincin tebal dan tiga struktur cincin tipis yang ditemukan. Secara berurutan, masing - masing bernama Rochester, Sutherland, Campanas and Tololo.

Pertanyaannya sekarang, apa benda langit bercincin serupa Saturnus yang ditemukan? Apakah bintang juga, planet atau benda langit lainnya? Belum ada jawaban pasti hingga kini.

Jika benda itu bermassa kurang dari 13 kali Jupiter, maka mungkin benda itu adalah planet serupa Saturnus. Sementara jika massanya 13-75 kali Jupiter, maka benda itu mungkin adalah bintang katai coklat. Dan, jika massanya jauh lebih besar, maka mungkin akan terjadi reaksi inti membentuk bintang.

Ada dugaan pula bahwa ada benda langit di antara struktur cincin. Jika benda inti yang dikelilingi cincin adalah planet, mungkin saja benda yang ada di antara struktur cincin adalah Bulan. Jika benda inti adalah bintang, maka bisa jadi benda yang ada di antara struktur cincin adalah bayi-bayi planet.

"Kita bisa mengimajinasikan struktur cincin di sekeliling bintang seperti yang dilihat di Saturnus. Bagian dalam tata Surya kita mungkin pernah memiliki struktur cincin ini di masa lalu, dalam usia sepuluh miliar tahun pertama," papar Mamajek.

Hasil penemuan Mamajek dan rekannya akan dipublikasikan di Astronomical Journal. Penemuan ini bisa memicu penelitian selanjutnya tentang pembentukan bulan-bulan planet gas raksasa.


Diambil dari : Kompas.com

Ada 160 Miliar Planet di Bimasakti

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Kamis, 12 Januari 2012 | 16:56 WIB

ESO Ilustrasi Bimasakti yang lebih dipadati planet daripada bintang. Studi mengungkap bahwa ada 160 miliar planet di Bimasakti.


WASHINGTON, KOMPAS.com — Galaksi Bimasakti ternyata merupakan galaksi padat planet. Studi terbaru menyatakan bahwa Bimasakti memiliki lebih banyak planet daripada bintang. Jumlah planet diperkirakan mencapai 160 miliar, sedangkan jumlah bintang adalah 100 miliar.

"Statistik ini menunjukkan bahwa planet di sekeliling bintang adalah biasa, tak istimewa. Mulai sekarang, kita harus melihat bahwa galaksi tidak hanya dipadati miliaran bintang, bayangkan bahwa mereka dikelilingi planet ekstrasurya," kata Arnaud Cassan dari Paris Institute of Astrophysics.

Tercatat sebelumnya telah ada lebih dari 700 planet di luar tata surya kita yang terkonfirmasi. Sementara itu, masih ada lagi 2.300 kandidat planet yang ditemukan wahana Kepler milik NASA yang menunggu kepastian.

Planet-planet itu ditemukan dengan dua metode, transit fotometri dan radial velocity. Metode pertama mendeteksi planet dari kedipan cahaya bintang sebagai tanda adanya planet yang mengelilingi. Cara kedua dengan melihat "goyangan" bintang sebagai hasil gravitasi planet.

Dalam studi ini, peneliti memakai metode baru yang disebut gravitational microlensing. Dalam metode ini, planet dideteksi dengan adanya cahaya bintang yang dibiaskan atau dimagnifikasi oleh obyek yang mengelilinginya.

Peneliti mengungkapkan, gravitational microlensing memiliki kelebihan dibanding transit fotometri dan radial velocity. Gravitational velocity bisa mendeteksi adanya planet yang terletak jauh dari bintangnya, berbeda dengan kedua teknik lain yang bias pada planet yang dekat bintang.

Berdasarkan riset, peneliti menunjukkan bahwa seperenam Bimasakti dihuni oleh planet seukuran Jupiter, setengahnya oleh planet seukuran Neptunus dan dua pertiganya oleh super-Earth. Itu pun hanya yang ada pada jarak yang sudah terdeteksi.

"Lebih lanjut, kami menemukan bahwa planet bermassa rendah, seperti super-Earth (1-10 kali massa Bumi) dan serupa Neptunus, lebih melimpah daripada planet raksasa seperti Jupiter dan Saturnus (kira-kira 6-7 kali lebih banyak dari planet massa rendah)," kata Cassan seperti dikutip Space, Rabu (11/1/2012).

Planet yang sebenarnya ada di Bimasakti mungkin sedikit lebih banyak daripada yang telah terhitung. Pada jarak yang belum bisa terdeteksi, mungkin masih ada banyak planet lagi.

Penemuan lain yang dipublikasikan tahun lalu dan dilakukan dengan teknik microlensing menunjukkan adanya planet seukuran Jupiter yang melayang sendirian, yatim piatu, tidak mengorbit bintang. Jumlah planet ini diperkirakan melebihi planet "normal" hingga 50 persen.

"Kedua hasil penelitian dengan microlensing menunjukkan bahwa planet ada di mana saja, tidak selalu mengorbit bintang," jelas Cassan.

Sementara itu, "anomali" lain adalah ditemukannya planet yang berada pada sistem bintang ganda. Ini dulu hanya bisa dibayangkan dalam film fiksi ilmiah Star Wars.

William Welsh, astronom dari San Diego State University, seperti dikutip AP, Rabu, mengungkapkan, "Alam sepertinya suka membentuk planet sebab planet itu ditemukan di tempat yang diperkirakan sulit mendukung pembentukan planet."


Diambil dari ; Kompas.com

Tata Surya Terkecil Ditemukan

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Kamis, 12 Januari 2012 | 12:23 WIB

NASA Ilustrasi tata surya terkecil, beranggotakan tiga planet yang lebih kecil dari Bumi dan mengorbit bintang katai merah KOI-961.


TEXAS, KOMPAS.com — Astronom menemukan tiga planet melalui penelitian wahana antariksa tanpa awak Kepler milik NASA. Tiga planet tersebut berukuran 0,78, 0,73, dan 0,57 diameter Bumi (12.756 km pada ekuator). Ketiganya mengorbit bintang katai merah bernama KOI-961 yang ukurannya cuma seperenam dari Matahari serta terletak di konstelasi Cygnus, berjarak 1,2 kuadriliun km dari Bumi.

"Ini tata surya terkecil yang kita temukan sejauh ini. Ini seperti antara Jupiter dan bulannya, dibandingkan dengan sistem keplanetan lainnya. Penemuan ini menunjukkan keberagaman sistem keplanetan di galaksi kita," kata John Johnson, pemimpin proyek penelitian dari California Institute of Technology.

Ketiga planet berjarak sangat dekat dengan bintangnya, hanya 0,6-1,5 jarak Bumi dengan Matahari yang rata-rata adalah 150 juta km. Johnson mengatakan, cuma dibutuhkan waktu kurang dari dua hari bagi planet-planet mungil itu untuk mengelilingi bintang KOI-961.

Semua planet yang ditemukan diperkirakan merupakan planet batuan. Namun, kedekatan jarak dengan bintang induknya membuat air dan kehidupan sulit terdapat di ketiga planet itu. Kisaran suhu tiga planet itu diperkirakan antara 447-177 derajat celsius.

Tata surya terkecil beranggotakan tiga planet ini ditemukan dengan metode transit. Astronom mengidentifikasi planet-planet dengan melihat kedipan cahaya bintang KOI-961. Kedipan bintang menandakan adanya planet yang mengelilinginya. Penemuan juga dibantu oleh astronom amatir, Kevin Apps.

Mengutarakan perasaan setelah menemukan tata surya dengan tiga planet ini, Johnson seperti dikutip Space, Rabu (11/1/2012), mengatakan, "Saya tidak bisa mengekspresikan perasaan senang saya ketika menemukan planet seukuran Mars. Sudah sangat sulit menemukan planet seukuran Bumi."

Temuan tata surya terkecil ini mengagumkan sebab planet-planetnya mengelilingi bintang katai merah. Penemuan ini menegaskan bahwa ada banyak tata surya dengan bintang induk berupa katai merah.

"Tata surya seperti ini bisa sangat umum di semesta. Ini sangat mengagumkan bagi para pemburu planet," papar Phil Muirhead dari California Institute of Technology yang juga terlibat penelitian.

Hasil penelitian dipaparkan di pertemuan tahunan American Astronomical Society yang berlangsung di Texas, Rabu kemarin.


Diambil dari : Kompas.com

Kluster Galaksi Gemuk Bermassa 2 Kuadriliun

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Rabu, 11 Januari 2012 | 15:05 WIB
Dibaca: 8981
|
Share:
NASA El Gordo

TEXAS, KOMPAS.com — Para astronom menemukan kluster galaksi terbesar yang pernah ada dengan Chandra X-Ray Observatory milik NASA. Kluster galaksi itu sungguh besar hingga disebut El Gordo atau Si Gemuk.

Massa kluster galaksi tersebut mencapai 2 kuadriliun kali matahari. Jumlah itu dinyatakan dengan angka 2 yang diikuti oleh 15 angka nol di belakangnya (2.000.000.000.000.000) alias kali 1.000 triliun.

Kluster galaksi itu sejatinya bernama ACT-CL J0102-4915. Jarak kluster galaksi itu 7 miliar tahun cahaya dari Bumi. Sementara umur kluster galaksi itu kira-kira 13,7 miliar tahun.

Gas di El Gordo bisa mencapai temperatur 200 juta derajat celsius, berdasarkan observasi Chandra di Very Large Telescope di European Southern Observatory, Cile.

"Kluster ini adalah yang paling masif, panas, dan menghasilkan paling banyak sinar-X dibanding kluster lain yang jaraknya sama atau lebih jauh," kata Felipe Menanteau, pemimpin penelitian.

Panas dan galaksi di El Gordo terkonsentrasi pada dua daerah, yang memberi petunjuk bahwa El Gordo merupakan gabungan antara dua kluster galaksi yang berbeda.

"Galaksi bergerak di dalam kluster dengan kecepatan 3 mil per jam," imbuh John Patrick Hughes, rekan Menanteau. Hughes dan Menanteau berasal dari Rutgers University.

Proses penggabungan kluster galaksi yang membentuk El Gordo tergantung pada materi gelap dan energi gelap. Karenanya, El Gordo bisa menjadi pintu untuk mempelajari materi gelap.

Ukuran dan jarak El Gordo memang luar biasa. Namun, baik ukuran maupun jarak masih sesuai dengan model Big Bang. Peristiwa Big Bang sendiri juga terjadi 13,7 miliar tahun lalu.

Hughes mengatakan, "Kluster galaksi raksasa seperti ini adalah target penemuan kita. Kita ingin melihat apakah kita memahami bagaimana obyek ekstrem ini terbentuk dengan model kosmologi yang ada saat ini."

Hasil penelitian Menanteau dan Hughes dipresentasikan dalam pertemuan American Astronomical Society di Austin, Texas, Selasa (10/1/2012). Penelitian juga dipublikasikan di Astrophysical Journal.


Diambil dari : Kompas.com