Selasa, 15 Februari 2011

TERNYATA PERBEDAAN ITU BEGITU INDAH


Bangsa kita adalah bangsa yang terdiri atas berbagai suku dan bahasa yang berbeda beda ada suku padang,jawa,sunda,bugis,aceh,batak,tioghoa dan lain sebagainya, juga bangsa kita terdiri dari pulau-pulau yang terhampar dari sabang sampai merauke yang terdiri dari pulau besar dan kecil dengan berbagai macam kekayaan alam,tumbuhan dan hewan yang dimilikinya.

Sungguh perbedaan merupakan anugrah Allah yang luar biasa,maha besar Allah dan segala puji bagi-Nya.

Demikianlah ketetapan Allah atas alam semesta ini,ada hitam ada putih,ada besar ada kecil,ada atas ada bawah,ada susah ada senang,ada kaya ada miskin dan sebagainya.

Marilah kita teliti keindahan dari perbedaan tersebut yang telah di anugerahkan Allah kepada kita :
• Allah menciptakan manusia terdiri dari laki2 dan wanita,”coba kita bayangkan bagaimana seandainya Allah hanya menciptakan laki2 saja atau perempuan saja,pastilah kesepian bukan?”

• Allah menciptakan rupa dan wajah yang berbeda-beda,”coba bayangkan seandainya Allah menciptakan laki2 dan wanita dengan wajah yang serupa.”

• Lihatlah jari jemari yang kita miliki,ada ibu jari,jari telunjuk,jari kelingking dan sebagainya,”Coba kita bayangkan lagi apa jadinya jika jari kita jempol semua atau kelingkingnya dua mungkin akan tampak aneh bahkan menakutkan”.maka mulai terasa indahlah perbedaan itu.



Ada rahasia dibalik perbedaan

• Coba kita lihat kembali jari jemari kita yang terdiri dari ibujari, kelingking telunjuk dan sebagainya,semua yang berbeda itu jika kita kepalkan menjadi sebuah kepalan maka ia akan menjadi sebuah kekuatan, maha besar Allah dan segala puji bagi_Nya.

• Lihat lagi rumah kita terdiri dari bagian2 yang berbeda beda,ada atap,dinding,pintu,jendela dan sebagainya bukankah menjadi indah dan memberi kenyamanan bila bersatu ketika panas untuk berlindung dan hujan tempat kita berteduh.

• Lihatlah bumbu2 masakan didapur,ada cabe,bawang merah,bawang putih,tomat,garam,gula dan sebagainya apabila disatukan dan diracik akan menghasilkan masakan yang begitu nikmatnya.Ternyata perbedaan itu begitu indah.bukan?Maha besar Allah dan segala puji bagiNya.


Beberapa potensi dari perbedaan sebagi anugrah dari Allah swt :
• Potensi untuk menjadi kekuatan
• Potensi untuk menjadi keindahan
• Potensi untuk membangun


Bisakah perbedaan itu disatukan?

bisakah potensi dari perbedaan itu dimanfaatkan untuk suatu yang bermanfaat bagi kebaikan bersama?

Firman Allah : “Aku ciptakan manusia dengan berbangsa-bangsa dan bernegara agar mereka saling mengenal”.

Rasulullah saw mengatakan dalam hadistnya “Iqtilafi ummati rohmatun” : Perbedaan diantara umatku adalah rahmat.

Negri ini sudah dihadiahi begitu banyak anugrah kekayaan alam dan bermacam suku2 dan bahasa ini denga perbedaan yang begitu indah marilah kita jaga keindahan ini dengan toleransi yang tinggi,saling menghargai, menghormati dan sama2 membangun masayarakat yang lebih baik beriman sejahtera bahagia dunia dan akhirat,amin..

Wallahu alam.

Semoga bermanfaat

Senin, 07 Februari 2011

WANITA AHLI SURGA DAN CIRI - CIRINYA



Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

> Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya <

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu a’lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam persaudaraan selalu...

SENYUM ADALAH SEDEKAH



Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

> Senyum adalah Sedekah <

Rasulullah SAW bersabda bahwa anak keturunan Adam memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap harinya sejak matahari mulai terbit.

Seorang sahabat yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan bertanya, “Jika kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lantas apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya ?”

Rasulullah SAW bersabda, “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah.” (HR Tirmizi dan Abu Dzar).

Dalam hadis lain disebutkan bahwa senyum itu ibadah,“Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah.” (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).

Salah seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah menuturkan tentang Rasulullah SAW, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW.” (HR Tirmidzi).

Meskipun ringan, senyum merupakan amal kebaikan yang tidak boleh diremehkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR Muslim).

Mungkin kita sering berpikir bahwa sedekah itu berkaitan erat dengan harta benda seperti pemberian uang, pakaian, atau apa pun yang bisa langsung dinikmati penerima dalam bentuk materi. Hal itu juga mungkin yang ada dalam pikiran para sahabat Rasulullah SAW, sehingga mereka sangat gelisah kemudian mempertanyakannya.

Karena itu, tidak semestinya seorang Muslim membiarkan satu hari pun berlalu tanpa dirinya terlibat dalam kegiatan bersedekah. Jika kita punya wawasan sempit mengenai pengertian bersedekah, tentulah hal itu menjadi mustahil.

Di antara keistimewaan sedekah adalah menolak bala (musibah).

Dari Sayyid Ali Ar-Ridha, dari Sayyid Ja’far Ash-Shadiq, dari Sayyid Ali Zainal Abidin, dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhum, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu dapat menghindarkan diri dari kematian yang tidak baik, menjaga diri dari tujuh puluh macam bencana.”

Wallahu a’lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam persaudaraan selalu...

KUNCI SURGA MUSLIMAH



Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

> Kunci Surga Muslimah <

Surga adalah idaman dan harapan setiap orang beriman, ia adalah akhir perjalanan bagi semua orang yang taat dan patuh kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Untuk menggapai surga, maka pentingnya seseorang untuk mengetahui kunci yang dengannya dia dapat membuka pintu surga dan masuk ke dalamnya.

Dalam hal ini, Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam pernah menyebutkan kunci surga yang khusus disediakan untuk para wanita yang kebanyakan kelak menjadi penghuni neraka sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh beliau juga. Dengan meraih kunci ini, niscaya dia tidak termasuk ke dalam golongan para wanita penghuni neraka.

Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam telah merangkum kunci surga muslimah dalam empat perkara, dari Abdurrahman bin Auf berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam bersabda,

“Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.” (HR. Ahmad nomor 1661, hadits hasan lighairihi).

Satu hal yang terpetik dari sabda Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam di atas adalah bahwa beliau hanya menyebutkan perkara-perkara yang masuk ke dalam jangkauan seorang muslimah, di mana seorang muslimah mampu melaksanakannya tanpa bergantung kepada orang lain atau bergantung kepada suaminya, di sini Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam tidak menyinggung, misalnya, haji, karena pelaksanaan ibadah ini oleh seorang muslimah bergantung kepada suatu perkara yang mungkin tidak dimilikinya, seperti tersedianya bekal haji atau tersedianya mahram, di sini Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam juga tidak menyinggung zakat, karena perkaranya kembali kepada kepemilikan harta dan pada umumnya ia berada di tangan kaum laki-laki, karena harta adalah hasil bekerja dan yang bekerja pada dasarnya adalah kaum laki-laki.

Kunci pertama, menjaga shalat lima waktu
Shalat adalah ibadah teragung, hadir setelah ikrar dua kalimat syahadat, satu-satunya ibadah yang tidak menerima alasan ‘tidak mampu’, wajib dikerjakan dalam keadaan apa pun selama hayat masih dikandung badan dan akal masih bekerja dengan baik, pembatas antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan, tidak heran jika suatu ibadah dengan kedudukan seperti ini merupakan salah satu kunci surga.

Jika menjaga shalat adalah kunci surga, maka sebaliknya menyia-nyiakannya adalah gerbang neraka, ketika para pendosa dicampakkan ke dalam neraka, mereka ditanya, apa yang membuat kalian tersungkur ke dalam neraka? Mereka menyebutkan rentetan dosa-dosa yang diawali dengan meninggalkan shalat. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, artinya,

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS.al-Muddatstsir: 42-43).

Perkara menyia-nyiakan shalat tidak jarang terjadi pada kaum muslimin secara umum dan kaum muslimat secara khusus, banyak alasan dan hal yang membuat mereka terjerumus ke dalam perbuatan tidak terpuji ini, di antara mereka ada yang menyia-nyiakan shalat karena malas dan meremehkan, di antara mereka ada yang terlalaikan oleh kesibukan hidup, sibuk bekerja, sibuk memasak, sibuk mengurusi rumah tangga, sibuk mengurusi anak-anak dan suami, sibuk dengan kegiatan-kegiatan lainnya sehingga ibadah shalat terbengkalai, padahal ibadah shalat tidak menerima alasan apa pun yang membuatnya tersia-siakan, dan Allah Subhanahu waTa’ala telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak terlalaikan oleh dunia dari mengingatNya, termasuk mengingatNya melalui ibadah shalat.
Firman Allah Subhanahu waTa’ala, artinya,

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. al-Munafiqun: 9).

Menjaga shalat lima waktu mencakup menjaga waktunya dalam arti melaksanakannya tepat waktu, tidak menundanya dan mengulur-ulur waktunya sampai waktunya hampir habis, atau bahkan membiarkannya habis, ini adalah shalat orang-orang munafik, dan seorang muslimah tidak patut bermental munafik dalam ibadah shalat.

Menjaga shalat mencakup menjaga syarat-syarat dan rukun-rukunnya di mana shalat tidak sah tanpanya, menjaga wajib-wajib dan sunnah-sunnahnya yang merupakan penyempurna bagi ibadah shalat, semua ini menuntut seorang muslimah untuk belajar dan membekali diri dengan ilmu yang shahih tentang shalat. Tanpa ilmu yang shahih tidak akan terwujud menjaga shalat.


Kunci kedua, berpuasa di bulannya
Puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu kunci surga, lebih dari itu di surga tersedia sebuah pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa yang dikenal dengan ‘ar-Rayyan’, pintu masuk para shaimin secara khusus, jika mereka telah masuk, maka ia akan ditutup.

Di samping berpuasa sebagai kunci surga, ia juga merupakan tameng dan pelindung dari neraka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan, ash-shaumu junnah, puasa adalah tameng atau pelindung, yakni dari api neraka.

Karena puasa merupakan salah satu kunci surga sekaligus pelindung dari neraka maka seorang muslimah harus menjaganya, dalam arti melaksanakannya dengan baik, memperhatikan syarat, rukun dan pembatalnya, karena tanpanya dia tidak mungkin berpuasa dengan baik.

Seorang muslimah juga harus memperhatikan perkara qadha puasa Ramadhan di hari-hari lain jika dia mendapatkan halangan pada bulan Ramadhan sehingga tidak mungkin berpuasa secara penuh, jangan sampai Ramadhan berikut hadir sementara dia belum melunasi hutang puasanya, perkara mengqadha puasa di hari lain ini sering terlupakan atau terabaikan, karena kesibukan hidup, padahal ia adalah hutang yang jika tidak dilaksanakan maka seorang muslimah tidak bisa dikatakan telah berpuasa di bulannya, selanjutnya dia gagal meraih kunci kedua dari kunci-kunci masuk surga, dari sini bersikap hati-hati dengan menyegerakan qadha adalah sikap bijak, karena penundaan terkadang malah merepotkan dan menyulitkan.


Kunci ketiga, menjaga kehormatan.
Surga hanya bisa diraih dengan keshalihan, hanya wanita shalihah yang akan masuk surga, shalihnya seorang wanita dibuktikan dengan beberapa sifat dan akhlak, salah satunya dan yang terpenting adalah menjaga kehormatan diri. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, artinya,

“Wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. an-Nisa`: 34).

Ayat ini menetapkan bahwa memelihara diri meruapakan wujud dari ketaatan seorang wanita shalihah kepada Allah kemudian kepada suaminya.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sebaik-baik wanita adalah wanita yang jika kamu melihat kepadanya, maka kamu berbahagia, jika kamu memerintahkannya maka dia menaatimu, jika kamu bersumpah atasnya maka dia memenuhinya dan jika kamu meninggalkannya, maka dia menjagamu pada diri dan hartamu.” (HR. an-Nasa`i)

Menjaga kehormatan berarti membentengi diri dari perkara-perkara yang mencoreng dan merusak kehormatan, yang menodai dan menggugurkan kemuliaan, dengan tetap bersikap dan bertingkah laku dalam koridor tatanan syariat yang suci lagi luhur.

Menjaga kehormatan di zaman di mana ajakan dan propaganda kepada kerusakan dan perbuatan keji semakin meningkat dan menguat, seruan dan arus serangan yang ditujukan kepada wanita-wanita muslimah dengan agenda dan maksud terselubung semakin gencar, menjaga kehormatan di zaman seperti ini terasa demikian sulit dan berat, para penyeru dan para jurkam kerusakan membidik wanita muslimah sebagai sasaran, mereka memakai dan menggunakan cara-cara yang melenakan dan menggiurkan dengan nama kemajuan, modernisasi, pemberdayaan, pengentasan, pembebasan dan kedok-kedok palsu lainnya, zhahiruhu fihi ar-Rahmah, wa bathinuhu ya`ti min qibalihi al-adzab, racun di balik kelembutan ular berbisa.

Dari sini maka seorang wanita muslimah harus jeli dan cermat sehingga dia tidak termakan oleh rayuan gombal para serigala yang berbulu domba, hendaknya seorang muslimah tetap berpegang kepada aturan-aturan dan rambu-rambu Islam yang luhur lagi suci karena di sanalah terkandung kebersihan dan kesucian diri, hendaknya seorang muslimah menimbang dan mengukur setiap seruan dan ajakan dengan timbangan dan ukuran syar’i yang baku dan menyeluruh, hal ini agar dia selamat dan tidak terjerumus ke dalam perkara-perkara yang merusak kemuliaan dan kehormatannya.


Kunci keempat, menaati suami.
Menaati suami merupakan lahan dan medan besar dan luas bagi seorang muslimah, ia merupakan ladang ibadah bagi seorang muslimah yang sesungguhnya setelah penghambaannya kepada Rabbnya.

Wallahu a’lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam persaudaraan selalu...

7 PERKARA KEBAHAGIAAN DUNIA


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

> Tujuh Perkara Kebahagiaan Dunia <

Sahabat yang dirahmati Allah,

Dari Ibnu Abbas r.a katanya :" Ada tujuh petanda kebahagiaan dunia, iaitu :
1. Hati yang selalu bersyukur (Qalbun syakirun)
2. Pasangan hidup yang soleh (Al azwaju shalihah)
3. Anak-anak yang soleh. (Al auladun abrar)
4. Suasana yang baik untuk iman kita (Albiatu sholihah)
5. Harta yang halal. (Al malul halal)
6. Semangat untuk memahami agama. (Tafakur fi dien)
7. Umur yang barakah ( umur yang semakin tua semakin soleh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah.)"


Pertama : Hati yang selalu bersyukur.
Ibnu Abbas r.a berkata : "Bersyukur adalah taat dengan segenap anggota badan kepada Allah s.w.t., baik secara sembunyi ataupun terang-terangan serta secara lisan maupun di dalam hati. Setelah itu sedaya upaya menjauhi maksiat serta kemungkaran."

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kamu."
(Surah Ibrahim ayat 7)


Kedua : Pasangan hidup yang soleh .
Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud , "Yang paling kukuh keimanan ialah berkawan kerana Allah, bermusuhan kerana Allah, bercinta kerana Allah dan membenci kerana Allah"
(Hadis Riwayat Tabarani dari Ibnu Abbas r.a)

Firman Allah s.w.t yang bermaksud :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula”.
(Surah an-Nur ayat 26)

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :
“Wanita itu dikawini kerana hartanya atau kecantikannya, keturunannya atau agamanya, maka hendaklah kamu memilih yang mempunyai agama yang kukuh, nescaya kamu akan bernasib baik.”


Ketiga : Anak-anak yang soleh.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya : “Apabila seseorang manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalannya melainkan daripada tiga perkara iaitu sedekah jariah, ilmu pengetahuan yang dapat
diambil manfaat daripadanya dan anak soleh yang mendoakan untuknya”.
(Hadis Riwayat Imam Muslim)

Firman Allah s.w.t.yang bermaksud :
"Dan kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun;(dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan)."
(Surah al-Luqman ayat 14)


Keempat : Suasana yang baik (biah solehah).
Betapa pentingnya mewujudkan suasana yang baik untuk membantu menjaga peribadi dan iman kita sebagai seorang muslim. Suasana yang baik ini perlu ada didalam rumah kita, suasana dipejabat dan suasana di kawasan perumahan tempat kita tinggal dan seterusnya suasana masyarakat kita.Mewujudkan biah solehah atau persekitaran yang baik adalah suatu yang wajib.

Ianya termasuk melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Bahkan menjalankan tugas amar makruf dan nahi mungkar itu adalah untuk mewujudkan biah solehah. Remaja yang terlibat dengan gejala sosial pada masa kini adalah disebabkan suasana persekitaran yang tidak sihat dan mendorong mereka untuk melakukan maksiat.


Kelima : Harta yang halal.
Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: ”Setiap jasad yang membesar daripada benda-benda yang haram maka api nerakalah yang layak baginya.”

Harta-harta yang berkat itu adalah harta yang halal dan baik, kerana sesuatu yang diambil dari yang tidak halal dan tidak baik tidak mungkin mampu mendorong seseorang kepada melakukan kebaikan sama ada kepada diri sendiri mahupun orang lain.


Keenam : Semangat untuk memahami agama.
Sesiapa yang diberi kefahaman tentang Islam juga dikira telah mendapat kebaikan di dunia. Orang Islam yang tidak diberi kefahaman tentang Islam oleh Allah akan mengamalkan apa yang disangkanya dari ajaran Islam tetapi sebenarnya menyeleweng dari Islam. Hidupnya tak akan benar-benar selamat dan tak mampu menyelamatkan orang lain.

Sabda Rasulullah s.a.w. : "Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, Dia akan menjadikannya faham dalam agama."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda,
"Manusia yang paling baik ialah seorang mukmin yang berilmu, yang apabila diperlukan kepadanya dia akan memberi manafaat (kepada orang lain) dan jika dia tidak diperlukan dia akan menjaga dirinya (dari orang lain)."
(Hadis Riwayat Al Baihaqi)


Ketujuh : Umur yang barokah.
Rasulullah s.a.w menyimpulkannya dalam dua kalimat iaitu “Manusia paling baik ialah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Manusia paling buruk ialah yang panjang umurnya dan buruk amalnya."


Sahabat yang dimuliakan,
Marilah kita berusaha untuk memiliki tujuk perkara kebahagiaan dunia yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas r.a seorang sahabat Nabi s.a.w. Kebahagiaan di dunia yang dinyatakan ini sebenarnya mempunyai kaitan yang rapat dengan kebahagiaan di hari akhirat.

Orang yang sentiasa bersyukur akan dirahmati Allah di dunia dan akhirat. Pasangan hidup yang bahagia adalah suami dan isteri yang soleh dan solehah. Dikurniakan pula anak-anak yang soleh dan solehah yang akan mendo'akannya apabila kedua ibu bapa pulang ke alam barzakh. Suasana baik, aman dan damai adalah faktor yang akan membentuk diri kita dan anak-anak kepada suasana Islam yang akan menambahkan iman dan takwa kita kepada Allah.

Begitu juga harta yang halal yang masuk kedalam perut kita akan menyebabkan do'a-do'a kita dimakbulkan Allah s.w.t. dan apabila disoal dihari akhirat nanti tentang harta, maka sumber yang kita perolehi adalah daripada sumber yang halal maka kita akan terselamat daripada azab Allah. Tanda Allah kasih pada hamba-hamba-Nya adalah Dia memberi kefahaman tentang deen Islam dan dapat pula di amalkannya. Yang terakhir adalah umur panjang yang dikurniakan Allah akan memberi manfaat kepada dirinya sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain.


Wallahu a’lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam persaudaraan selalu...

SURAT CINTA PALING INDAH SEPANJANG MASA



Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

> SURAT CINTA PALING INDAH SEPANJANG MASA <

Segala puji bagi Allah… yg telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.
Shalawat serta salam hamba -yg lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yg mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…


Ibu…
Aku terima suratmu yg engkau tulis dg tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yg aku sisakan.
Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’… Semenjak sholat isya’… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yg engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah… Jika engkau letakkan di atas daun yg hijau, tentu dia akan kering…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut tidak akan tertelan oleh ayam… Sebenarnya, wahai ibu, suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan, yg jika dipecutkan ke pohon yg besar, dia akan rebah dan terbakar…
Suratmu wahai ibu, bagaikan awan Kaum Tsamud, yg datang berarak dan telah siap dimuntahkan kepadaku…

Ibu…
Aku telah baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana tidak… Jika surat itu ditulis oleh seorang yg bukan ibu dan bukan ditujukan pula kepadaku, layaklah orang yg paling bebal, untuk menangis sejadi-jadinya… Bagaimana kiranya, jika yg menulis itu adalah ibuku sendiri… dan surat itu ditujukan untukku sendiri…
Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yg dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata… Bagaimana pula dg surat yg ibu tulis itu!? bukan cerita yg ibu karang, atau sebuah drama yg ibu perankan, akan tetapi dia adalah kenyataan hidup yg ibu rasakan.

Ibuku yg kusayangi…
Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yg engkau telah sebutkan benar adanya…
Aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah pada masa engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan uang belanja, jadilah engkau mencari apa yg dapat dimasak di sekitar rumah dari dedaunan dan tumbuhan.
Dg jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yg engkau ambil tersebut adalah hutang… hutang… yg engkau sendiri tidak tahu, kapan engkau akan dapat melunasinya…

Ibu…
Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yg telah lama engkau jemur dan keringkan…
Tidak jarang pula engkau simpan untukku sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dg segera.
Aku masih ingat… engkau sengaja ambilkan air didih dari nasi yg sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.

Ibu…
maafkanlah anakmu ini… aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana yg diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan.
Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu hanya dg anak-anakmu… Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia, kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu, tidak ada kebahagiaan… Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan

Ibu…
Maafkan anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri, wanita yg telah engkau puji sifat dan akhlaknya… yg engkau telah sanjung pula suku dan negerinya! Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa deganmu…

Wahai ibu…
Keberadaan dia sebagai istriku telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku… senyuman dan sapaannya telah melupakanku dg himbauanmu.
Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena kewajibannya untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai istri… Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya… Karena selama ini, di mataku dia adalah istri yg baik, istri yg telah berupaya berbuat banyak untuk suami dan anak-anaknya… Istri yg selalu menyuruh untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ibu…
Ketika seorang laki-laki menikah dg seorang wanita, maka seolah-olah dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu…
Aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku, anakmu ini… Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yg aku alami, perubahan suasana setelah engkau dan aku berpisah, tidak satu atap lagi…

Ibu…
Perkawinanku membuatku masuk ke alam dunia baru… dunia yg selama ini tidak pernah aku kenal… dunia yg hanya ada aku, istri dan anak-anakku… Bagaimana tidak, istri yg baik, anak-anak yg lucu-lucu! Maafkan aku Ibu… Maafkan aku anakmu… aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dg keadaan orang yg penting bagiku… yg penting bagiku adalah keadaan mereka: anak-anak dan istriku…

Ibu…
Maafkan aku, anakmu… Ampunkan aku, anakmu… Aku telah lalai… aku telah alpa… aku telah lupa… aku telah menyia-nyiakanmu…
Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya, akan tetapi anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya… Oleh sebab itu, dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya… Itulah yg terjadi pada diriku, wahai Ibu!!
Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit… Aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku diare… Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu wahai ibu… Itu sulit aku rasakan, jika seandainya hal itu terjadi pada ibu, dan pada ayah…

Ibu…
Sulit aku merasakan perasaanmu…
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yg telah engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan anak-anak yg durhaka kepada orang tuanya!!
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayahmu, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.
Setelah suratmu datang, baru aku mengerti… Karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan berat, yg engkau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti, wahai ibu… bahwa hari yg sulit bagi seorang ibu, adalah hari di mana anak laki-lakinya telah menikah dg seorang wanita… wanita yg telah mendapat keberuntungan…
Bagaimana tidak… Dia dapatkan seorang laki-laki yg telah matang pribadinya dan matang ekonominya, dari seorang ibu yg telah letih membesarkannya… Dari hidup ibu itulah ia dapatkan kematangan jiwa, dan dari uang ibu itu pulalah ia dapatkan kematangan ekonomi… Sekarang, -dg ikhlas- ia berikan kepada seorang wanita yg tidak ada hubungan denganya, kecuali hubungan dua wanita yg saling berebut perhatian seorang laik-laki… Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.

Ibuku sayang…
Maafkan aku… Ampunkan diriku… Satu tetesan air matamu adalah lautan api neraka bagiku… Janganlah engkau menangis lagi, janganlah engkau berduka lagi!… Karena duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…
Kalau itu pula yg akan kuperoleh… kalau neraka pula yg akan aku dapatkan… ijinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini, hanya demi untuk dapat menyeka air matamu…
Kalau engkau masih akan murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yg aku miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau… terserah engkau, mau engkau buat apa…
Sungguh ibu, dari hati aku katakan, aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan Firaun… kekayaan Karun… dan keahlian Haman… Niscaya aku tidak akan tukar dg kesengsaraan di akhirat sekalipun sesaat… Siapa pula yg tahan dg azab neraka, wahai Bunda… maafkan aku anakmu, wahai ibu!!
Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Allah ta’ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit… bahwa engkau belum mau berdoa kepada Alloh akan kedurhakaanku… Maka, ampun, wahai Ibu!!
Kalaulah itu yg terjadi… dan do’a itu tersampaikan ke langit! Salah pula ucapan lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku… Apalah jadinya nanti diriku… Tentu aku akan menjadi tunggul yg tumbang disambar petir… apalah gunanya kemegahan, sekiranya engkau do’akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi pohon yg tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di tengahnya dimakan kumbang pula…
Kalaulah do’amu terucap atasku, wahai bunda… maka, tidak ada lagi gunanya hidup… tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan…
Ibu dalam sepanjang sejarah anak manusia yg kubaca, tidak ada yg bahagia setelah kena kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya di akherat, tentu ia lebih sengsara…

Ibu…
Setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan kelalaianku.
Ibu… Suratmu akan kujadikan “jimat” dalam hidupku… setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu akan aku baca ulang kembali… tiap kali aku lengah darimu akan kutalqinkan diriku dengannya… Akan kusimpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku… Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku, bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai di dalam berbakti, lalu ia sadar dan kembali kepada kebenaran… ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yg seharusnya ia cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.

Ibu…
Tua… engkau berbicara tentang tua, wahai bunda…?! siapa yg tidak mengalami ketuaan, wahai ibu!!
Burung elang yg terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat yg tinggi… suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar, dan diperebutkan oleh burung-burung kecil.
Singa, si raja hutan yg selalu memangsa, jika telah tiba tua, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan… Tidak ada kekuasaan yg kekal, tidak ada kekayaan yg abadi, yg tersisa hanya amal baik atau amal buruk yg akan dipertanggungjawabkan.

Ibu…
Do’akan anakmu ini, agar menjadi anak yg berbakti kepadamu, di masa banyak anak yg durhaka kepada orang tuanya… Angkatlah ke langit munajatmu untukku, agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.

Ibu…
sesampainya suratku ini, insya Allah tidak akan ada lagi air mata yg jatuh karena ulah anakmu… setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku denganmu…
bahagiamu adalah bahagiaku… kesedihanmu adalah kesedihanku… senyumanmu adalah senyumanku… tangismu adalah tangisku…
Aku berjanji, untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya, dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selagi mataku masih bisa berkedip… maka bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum… Ini kami… aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu, mencium tanganmu.

Salam hangat dari anakmu yg durhaka…

Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam persaudaraan selalu...

KRITERIA WANITA IDAMAN




Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

> Kriteria Wanita Idaman <

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Setelah sebelumnya kita mengkaji siapakah pria yang mesti dijauhi dan tidak dijadikan idaman maupun idola, maka untuk kesempatan kali ini kita spesial akan membahas wanita. Siapakah yang pantas menjadi wanita idaman? Bagaimana kriterianya? Ini sangat perlu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, sehingga si pria tidak salah dalam memilih. Begitu juga kriteria ini dimaksudkan agar si wanita bisa selalu introspeksi diri. Semoga bermanfaat.

Kriteria Pertama: Memiliki Agama yang Bagus

Inilah yang harus jadi kriteria pertama sebelum kriteria-kriteria lainnya. Tentu saja wanita idaman memiliki aqidah yang bagus, bukan malah aqidah yang salah jalan. Seorang wanita yang baik agamanya tentu saja tidak suka membaca ramalan-ramalan bintang seperti zodiak dan shio. Karena ini tentu saja menunjukkan rusaknya aqidah wanita tersebut. Membaca ramalan bintang sama halnya dengan mendatangi tukang ramal. Bahkan ini lebih parah dikarenakan tukang ramal sendiri yang datang ke rumahnya dan ia bawa melalui majalah yang memuat berbagai ramalan bintang setiap pekan atau setiap bulannya. Jika cuma sekedar membaca ramalan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya mengenai sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.”[1] Jika sampai membenarkan ramalan tersebut, lebih parah lagi akibatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kufur pada Al Qur’an yang diturunkan pada Muhammad.”[2]

Begitu pula ia paham tentang hukum-hukum Islam yang berkenaan dengan dirinya dan juga untuk mengurus keluarga nantinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan seorang pria untuk memilih perempuan yang baik agamanya. Beliau bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”.[3] Sebenarnya makna “taribat yadak”adalah

Inilah kriteria wanita idaman yang patut diperhatikan pertama kali –yaitu baiknya agama- sebelum kriteria lainnya, sebelum kecantikan, martabat dan harta.

Kriteria Kedua: Selalu Menjaga Aurat

Kriteria ini pun harus ada dan jadi pilihan. Namun sayangnya sebagian pria malah menginginkan wanita yang buka-buka aurat dan seksi. Benarlah, laki-laki yang jelek memang menginginkan wanita yang jelek pula.
Ingatlah, sangat bahaya jika seorang wanita yang berpakaian namun telanjang dijadikan pilihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”[4] Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah:

1. Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
2. Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang.[5]

Sedangkan aurat wanita yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.[6]

Kriteria Ketiga: Berbusana dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i

Wanita yang menjadi idaman juga sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah.

Syarat pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.

Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[7]

Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.

Syarat keempat: Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.”[8]
Inilah di antara beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang pantas dijadikan kriteria.

Kriteria keempat: Betah Tinggal di Rumah

Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.[9]
Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”.[10]

Kriteria Kelima: Memiliki Sifat Malu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.”[11]

Kriteria ini juga semestinya ada pada wanita idaman. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya".Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24).

Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!

Demikianlah kriteria wanita yang semestinya jadi idaman. Namun kriteria ini baru sebagian saja. Akan tetapi, kriteria ini semestinya yang dijadikan prioritas.
Intinya, jika seorang pria ingin mendapatkan wanita idaman, itu semua kembali pada dirinya. Ingatlah: ”Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”. Jadi, hendaklah seorang pria mengoreksi diri pula, sudahkah dia menjadi pria idaman, niscaya wanita yang ia idam-idamkan di atas insya Allah menjadi pendampingnya. Inilah kaedah umum yang mesti diperhatikan.
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mendapatkan keberkahan dalam hidup ini.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Wallahu a’lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam persaudaraan selalu..

MEMULIAKAN WANITA


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

> Memuliakan Wanita <>

JOMBLO KEREN, GUE BANGET

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

>Jomblo Keren, Gue Banget<

Katanya sih, masa muda adalah masanya bercinta. Gonta-ganti pacar buat tambah pengalaman. Waduh, asik bener kalau begitu! Tapi apa iya dengan gonta-ganti pacar kita dapat merasakan cinta yang sesungguhnya? Sobat muda dah kenalan belum sama si ‘cinta’? Kalau belum, kita kenalan dulu yuk.

Kenalan dengan si ‘cinta’

Apa sih arti cinta? Kadang kita juga bingung untuk mengartikan arti cinta. Mm.. jadi ingat sama lagunya Snada nih yang judulnya Arti Cinta.

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu dinda
Agar kau mengerti arti sesungguhnya..
Tak akan terlena, dan terbawa harumnya bunga asmara
Yang akan membuat dirimu sengsara..
(Snada- Arti Cinta)

Heu.. heu.. Lanjutin sendiri deh lagunya..
Kita semua tentu sepakat bukan, bahwa cinta merupakan salah satu emosi yang ada dalam diri manusia. Definisi cinta menurut para ahli sampai saat ini tidak ada yang pasti. Tapi secara umum cinta diartikan sebagai ungkapan perasaan yang paling mendalam dari seseorang terhadap sebuah objek, manusia atau lainnya yang memiliki nilai yang sangat istimewa. Tidak hanya mengandung perasaan sayang, tetapi perasaan lain yang mengikat. Makanya, merasakan cinta pasti ga jauh-jauh dari perasaan cemburu. Iya kan?!

Apakah cinta membuat kita bahagia? Tentu saja. Gimana nggak bahagia coba, jika kita disayangi, dipercaya, dihormati dan diberi penghargaan-penghargaan lain. Mm.. tapi kalau cinta harusnya bikin orang bahagia, kenapa gak sedikit ya orang yang menderita gara-gara cinta? Duh, jangan salahin si ‘cinta’ dong.. Itu sih salah orang yang mengaplikasikan si ‘cinta’ itu sendiri.

Cinta Harus Dibuktikan

Cinta itu memang harus dibuktikan, bahkan dengan pengorbanan. Bukan hanya dengan lafal saja. Rasa cinta yang sangat besar yang dimiliki orang tua kepada anaknya saja harus diuji dengan keyakinan mahabbatulloh. Yaitu ketika nabi Ibrohim disuruh Alloh untuk menyembelih putra terkasihnya, Ismail. Bukankah itu bentuk pembuktian cinta yang besar terhadap Alloh?

Cinta, tentu harus ada tindakan nyata untuk membuktikan dan menguji seberapa besar rasa cinta yang ada. Contoh nyatanya nih, kalau si Ari memiliki rasa sayang kepada sahabatnya, tentu dia akan membuktikannya dengan berbuat baik seperti memberi perhatian, menjaga perasaan, dan menolong sahabatnya jika sedang kesusahan. Tidak jauh beda dengan Nia yang mencintai adiknya, tentu dia akan menyayangi, mengasihi, dan memberi bantuan apapun semampunya untuk membantu adik kandung yang dia cintai. Nah kalau kasusnya seperti Irwan yang ingin membuktikan rasa cintanya kepada Risa sang pujaan hati, bagaimana tuh? Apakah cintanya harus dibuktikan juga? Tentu saja, yaitu dengan menjaganya. Irwan tidak boleh mendekati Risa dengan alasan cinta, tidak boleh menjadikannya pacar, bahkan menyentuh pun jangan. Why? Karena cinta itu menjaga. Menjaga kesucian orang yang dicintainya. Kalau Irwan memacari Risa, ya berarti dia gak benar-benar cinta sama Risa. Irwan sudah ingin mencoba berdekatan dengan Risa tanpa alasan yang syar’i. Cowok kalo beraninya cuma pacaran, itu namanya masih kecil. Masa masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti dia nggak berani pacaran, tapi langsung datang ke ortu si cewek dan ngelamar. Married deh. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipuan dan aktivitas berlumur dosa.

Kembali kepada kisah nabi Ibrohim tadi, bahwa sesungguhnya tidak boleh ada kecintaan lain yang menandingi rasa cinta kita kepada Alloh. Lha, seorang nabi aja masih harus dibuktikan rasa cintanya kepada Alloh, apalagi kita nih manusia biasa-biasa aja. Padahalkan nabi Ibrohim mencintai anaknya, anak kandung lho, yang memang harusnya disayangi. Itu masih tidak boleh melebihi rasa cinta kepada Alloh. Bayangkan, pembuktiannya ga tanggung-tanggung. Nabi Ibrohim disuruh Alloh menyembeli Ismail. Waduh.. bagaimana kalau di bandingkan dengan kasus si Irwan tadi yang mencintai si Risa. Saudara juga bukan, dah berani pengen deket-deketan. Bukan muhrim, non! Lalu bagaimana ingin membuktikan rasa cinta yang lebih besar kepada Alloh kalau mereka berpacaran. Oh, no..!!

Are you moslem? Kok pacaran sih…

Hikmah terbesar dari peristiwa Ibrohim dan Ismail adalah mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta kepada Alloh. Cinta kepada Robb, harus kita utamakan. Kalau kamu membicarakan cinta kepada lawan jenis, itu bukan cinta sejati. Cinta kepada negara, itu juga bukan cinta sejati. Tapi cinta kepada Alloh, berarti mengeluarkan segenap daya upaya yang kita miliki, seluruh semangat kita dan akal budi kita agar memuliakan Alloh di pelataran bumi ini.

Eits, tapi tenang dulu sobat muda. Kita gak akan marah-marahin kamu yang pacaran kok, tapi hanya ingin mengajak kita bareng-bareng belajar jadi bener. Jadi tenang aja, ok. Kamu baca dulu bulletin ini sampai tuntas…

Mungkin, kebanyakan dari kamu masih kepingin protes ya kalau dilarang pacaran. Duh, anak risma ini gimana sih. Zaman gini dilarang pacaran, kuno banget deh! Hm.. ok kalau begitu, sekarang kita tanya kamu deh, kenapa harus pacaran? Pacaran itu biar gak kuper, biar gak dibilang nggak laku, biar ada cowok yang sayang ama kita, biar semangat belajar, biar nggak malu dengan teman-teman yang pada umumnya punya pacar, mm…sekedar pingin tau aja sih gimana rasanya pacaran itu.

Wah, ternyata kalian cukup pandai beralasan juga rupanya. Ok deh sekarang kita kaji arti pacaran itu sendiri. Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi kegiatan terakhir ini kayaknya banyak yang gak jadi belajarnya deh.. karena pada sibuk mandangin gebetan masing-masing. Iya apa iya? Hayo.. ada yang bisa jawab ga?

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan”

(HR Ahmad)

Ketika Harus Memilih; Pacaran atau Jomblo

Bandingkan antara orang yang pacaran dengan yang jomblo alias tidak pacaran. Dari segi duniawinya aja dah untung. Orang yang gak punya pacar lebih terjaga ekonominya, karena ga nraktir si doi mulu. Hehe.. Dah gitu, kita juga freedom alias bebas. Gak terikat dengan ikatan yang gak jelas. Lho, ko gak jelas sih? Tentu gak jelas dong. Belum tentu kan yang jadi pacar itu yang nantinya bakal jadi suami/istri kita. Hm.. jadi jomblo juga bisa jadi lebih fokus pada pekerjaan. Gak melulu mikirin si dia yang belum tentu mikirin kamu. Dan yang lebih manfaat lagi, dengan jomblo kita terjaga dari hal-hal yang berbau maksiat.

Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, kamu malah bisa bangga menyandang gelar itu. Kalau kamu orang yang pinter nih, ada atau tidaknya yang mau denganmu nggak bakal kamu ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja dah pusing, ngapain juga mikirin pacar. Pacaran adalah sesuatu yang nggak penting. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi. Kalau sudah saatnya untuk menikah, baru deh mikirin pasangan hidup. Pasangan hidup lho, bukan pacar. Dan itu juga tidak melewati proses pacaran, tetapi ta’aruf alias langsung menuju pernikahan.

Kalau kamu seorang perempuan, jangan mau dipacarin. Kesannya tuh jadi cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain deh. Ih…nggak asyik banget kan! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian, karena udah tahu ‘dalemnya’. Laki-laki kan pinginnya dapat perempuan baik-baik. Coba aja deh kalau kamu beli baju, kamu pilih baju yang ada dipajangan atau pilih yang ada di dalam etalase dan masih rapi dalam kemasan plastik? Kalau selera kamu bagus sih pasti pilih yang masih di etalase dan masih bagus terbungkus plastik. Nah, sekarang pilih mana antara perempuan yang rapi berjilbab yang auratnya tertutup semua, dengan perempuan yang sering buka-bukaan sehingga kita gak aneh lagi liat lekuk tubuhnya. Duh, kasihan banget deh.. jangan mau ya jadi perempuan yang seperti itu. Jelas kesannya tuh murahan.

Terlepas apa motivasi kamu untuk jadi jomblo, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri untuk urusan kehormatan. Kamu nggak mau pacaran karena pacaran itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena remaja muslim itu adalah seorang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Keren khan?

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalau kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholeh/sholihah kalo itu diniatkan karena Alloh semata. Bukankah hidup ini cuma sementara? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Sekarang, kalau ada yang masih usil dengan predikat jomblo kamu, bilang aja…. Jomblo, so what gitu lho..!

Wallahu a’lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam persaudaraan selalu...

JOMBLO KEREN, GUE BANGET

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

>Jomblo Keren, Gue Banget<

Katanya sih, masa muda adalah masanya bercinta. Gonta-ganti pacar buat tambah pengalaman. Waduh, asik bener kalau begitu! Tapi apa iya dengan gonta-ganti pacar kita dapat merasakan cinta yang sesungguhnya? Sobat muda dah kenalan belum sama si ‘cinta’? Kalau belum, kita kenalan dulu yuk.

Kenalan dengan si ‘cinta’

Apa sih arti cinta? Kadang kita juga bingung untuk mengartikan arti cinta. Mm.. jadi ingat sama lagunya Snada nih yang judulnya Arti Cinta.

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu dinda
Agar kau mengerti arti sesungguhnya..
Tak akan terlena, dan terbawa harumnya bunga asmara
Yang akan membuat dirimu sengsara..
(Snada- Arti Cinta)

Heu.. heu.. Lanjutin sendiri deh lagunya..
Kita semua tentu sepakat bukan, bahwa cinta merupakan salah satu emosi yang ada dalam diri manusia. Definisi cinta menurut para ahli sampai saat ini tidak ada yang pasti. Tapi secara umum cinta diartikan sebagai ungkapan perasaan yang paling mendalam dari seseorang terhadap sebuah objek, manusia atau lainnya yang memiliki nilai yang sangat istimewa. Tidak hanya mengandung perasaan sayang, tetapi perasaan lain yang mengikat. Makanya, merasakan cinta pasti ga jauh-jauh dari perasaan cemburu. Iya kan?!

Apakah cinta membuat kita bahagia? Tentu saja. Gimana nggak bahagia coba, jika kita disayangi, dipercaya, dihormati dan diberi penghargaan-penghargaan lain. Mm.. tapi kalau cinta harusnya bikin orang bahagia, kenapa gak sedikit ya orang yang menderita gara-gara cinta? Duh, jangan salahin si ‘cinta’ dong.. Itu sih salah orang yang mengaplikasikan si ‘cinta’ itu sendiri.

Cinta Harus Dibuktikan

Cinta itu memang harus dibuktikan, bahkan dengan pengorbanan. Bukan hanya dengan lafal saja. Rasa cinta yang sangat besar yang dimiliki orang tua kepada anaknya saja harus diuji dengan keyakinan mahabbatulloh. Yaitu ketika nabi Ibrohim disuruh Alloh untuk menyembelih putra terkasihnya, Ismail. Bukankah itu bentuk pembuktian cinta yang besar terhadap Alloh?

Cinta, tentu harus ada tindakan nyata untuk membuktikan dan menguji seberapa besar rasa cinta yang ada. Contoh nyatanya nih, kalau si Ari memiliki rasa sayang kepada sahabatnya, tentu dia akan membuktikannya dengan berbuat baik seperti memberi perhatian, menjaga perasaan, dan menolong sahabatnya jika sedang kesusahan. Tidak jauh beda dengan Nia yang mencintai adiknya, tentu dia akan menyayangi, mengasihi, dan memberi bantuan apapun semampunya untuk membantu adik kandung yang dia cintai. Nah kalau kasusnya seperti Irwan yang ingin membuktikan rasa cintanya kepada Risa sang pujaan hati, bagaimana tuh? Apakah cintanya harus dibuktikan juga? Tentu saja, yaitu dengan menjaganya. Irwan tidak boleh mendekati Risa dengan alasan cinta, tidak boleh menjadikannya pacar, bahkan menyentuh pun jangan. Why? Karena cinta itu menjaga. Menjaga kesucian orang yang dicintainya. Kalau Irwan memacari Risa, ya berarti dia gak benar-benar cinta sama Risa. Irwan sudah ingin mencoba berdekatan dengan Risa tanpa alasan yang syar’i. Cowok kalo beraninya cuma pacaran, itu namanya masih kecil. Masa masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti dia nggak berani pacaran, tapi langsung datang ke ortu si cewek dan ngelamar. Married deh. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipuan dan aktivitas berlumur dosa.

Kembali kepada kisah nabi Ibrohim tadi, bahwa sesungguhnya tidak boleh ada kecintaan lain yang menandingi rasa cinta kita kepada Alloh. Lha, seorang nabi aja masih harus dibuktikan rasa cintanya kepada Alloh, apalagi kita nih manusia biasa-biasa aja. Padahalkan nabi Ibrohim mencintai anaknya, anak kandung lho, yang memang harusnya disayangi. Itu masih tidak boleh melebihi rasa cinta kepada Alloh. Bayangkan, pembuktiannya ga tanggung-tanggung. Nabi Ibrohim disuruh Alloh menyembeli Ismail. Waduh.. bagaimana kalau di bandingkan dengan kasus si Irwan tadi yang mencintai si Risa. Saudara juga bukan, dah berani pengen deket-deketan. Bukan muhrim, non! Lalu bagaimana ingin membuktikan rasa cinta yang lebih besar kepada Alloh kalau mereka berpacaran. Oh, no..!!

Are you moslem? Kok pacaran sih…

Hikmah terbesar dari peristiwa Ibrohim dan Ismail adalah mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta kepada Alloh. Cinta kepada Robb, harus kita utamakan. Kalau kamu membicarakan cinta kepada lawan jenis, itu bukan cinta sejati. Cinta kepada negara, itu juga bukan cinta sejati. Tapi cinta kepada Alloh, berarti mengeluarkan segenap daya upaya yang kita miliki, seluruh semangat kita dan akal budi kita agar memuliakan Alloh di pelataran bumi ini.

Eits, tapi tenang dulu sobat muda. Kita gak akan marah-marahin kamu yang pacaran kok, tapi hanya ingin mengajak kita bareng-bareng belajar jadi bener. Jadi tenang aja, ok. Kamu baca dulu bulletin ini sampai tuntas…

Mungkin, kebanyakan dari kamu masih kepingin protes ya kalau dilarang pacaran. Duh, anak risma ini gimana sih. Zaman gini dilarang pacaran, kuno banget deh! Hm.. ok kalau begitu, sekarang kita tanya kamu deh, kenapa harus pacaran? Pacaran itu biar gak kuper, biar gak dibilang nggak laku, biar ada cowok yang sayang ama kita, biar semangat belajar, biar nggak malu dengan teman-teman yang pada umumnya punya pacar, mm…sekedar pingin tau aja sih gimana rasanya pacaran itu.

Wah, ternyata kalian cukup pandai beralasan juga rupanya. Ok deh sekarang kita kaji arti pacaran itu sendiri. Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi kegiatan terakhir ini kayaknya banyak yang gak jadi belajarnya deh.. karena pada sibuk mandangin gebetan masing-masing. Iya apa iya? Hayo.. ada yang bisa jawab ga?

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan”

(HR Ahmad)

Ketika Harus Memilih; Pacaran atau Jomblo

Bandingkan antara orang yang pacaran dengan yang jomblo alias tidak pacaran. Dari segi duniawinya aja dah untung. Orang yang gak punya pacar lebih terjaga ekonominya, karena ga nraktir si doi mulu. Hehe.. Dah gitu, kita juga freedom alias bebas. Gak terikat dengan ikatan yang gak jelas. Lho, ko gak jelas sih? Tentu gak jelas dong. Belum tentu kan yang jadi pacar itu yang nantinya bakal jadi suami/istri kita. Hm.. jadi jomblo juga bisa jadi lebih fokus pada pekerjaan. Gak melulu mikirin si dia yang belum tentu mikirin kamu. Dan yang lebih manfaat lagi, dengan jomblo kita terjaga dari hal-hal yang berbau maksiat.

Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, kamu malah bisa bangga menyandang gelar itu. Kalau kamu orang yang pinter nih, ada atau tidaknya yang mau denganmu nggak bakal kamu ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja dah pusing, ngapain juga mikirin pacar. Pacaran adalah sesuatu yang nggak penting. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi. Kalau sudah saatnya untuk menikah, baru deh mikirin pasangan hidup. Pasangan hidup lho, bukan pacar. Dan itu juga tidak melewati proses pacaran, tetapi ta’aruf alias langsung menuju pernikahan.

Kalau kamu seorang perempuan, jangan mau dipacarin. Kesannya tuh jadi cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain deh. Ih…nggak asyik banget kan! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian, karena udah tahu ‘dalemnya’. Laki-laki kan pinginnya dapat perempuan baik-baik. Coba aja deh kalau kamu beli baju, kamu pilih baju yang ada dipajangan atau pilih yang ada di dalam etalase dan masih rapi dalam kemasan plastik? Kalau selera kamu bagus sih pasti pilih yang masih di etalase dan masih bagus terbungkus plastik. Nah, sekarang pilih mana antara perempuan yang rapi berjilbab yang auratnya tertutup semua, dengan perempuan yang sering buka-bukaan sehingga kita gak aneh lagi liat lekuk tubuhnya. Duh, kasihan banget deh.. jangan mau ya jadi perempuan yang seperti itu. Jelas kesannya tuh murahan.

Terlepas apa motivasi kamu untuk jadi jomblo, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri untuk urusan kehormatan. Kamu nggak mau pacaran karena pacaran itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena remaja muslim itu adalah seorang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Keren khan?

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalau kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholeh/sholihah kalo itu diniatkan karena Alloh semata. Bukankah hidup ini cuma sementara? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Sekarang, kalau ada yang masih usil dengan predikat jomblo kamu, bilang aja…. Jomblo, so what gitu lho..!

Wallahu a’lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam persaudaraan selalu...